Rabu, 25 April 2018

Kamu Yang Selamanya Pergi, Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki

"Melihat tawamu, mendengar senandungmu..." Lagu yang sama termainkan berulang kali di mobil yang sama, bersama orang-orang yang sama. Saat ini apa yang aku inginkan hanya mengutuk dunia, juga diriku sendiri.

Sebelumnya perkenalkan, namaku Adam. Aku mahasiswa semester dua yang sedang terluka. Akhir-akhir ini dunia berputar puluhan kali lebih cepat. Pikiranku melayang kemanapun ia mau. Semua yang membebaniku dimulai tepat minggu lalu.

Hari itu Selasa, tanggal 26 April dan seperti biasa, kuliah menyita waktu ku. Aku adalah mahasiswa semester dua di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Jurusannya? Biar menjadi rahasia. Yang jelas, kultur di jurusan ini selalu panas. Beruntung aku mempunyai teman-teman dekat yang baru aku kenal diawal kuliah seperti Angga, Ali, Fandi, Bagas, Kus, dan Dwi.

Hari ini tidak jauh beda. Seperti kebiasaanku dan teman-teman, waktu kuliah adalah waktu paling baik untuk mengeluh. Entah siapa yang harus disalahkan tapi pada akhirnya kami menyadari kalau kuliah itu tidak harus didalam kelas. Ilmu bisa kita dapatkan dimanapun dan kapanpun kita mau. Ya, meskipun itu lebih ke pembenaran diri atas pembolosan masal yang biasa kami lakukan. Seperti hari ini juga, pada akhirnya kantin adalah tempat kami berkuliah, bukan kelas.

"Cewek mana lagi itu yang kamu mainin?" Angga mengusik ku ketika sedang asik berbincang dengan wanita-wanita cantik incaranku di sosial media. Perlu kalian ketahui, aku tidak bisa berkomitmen dengan satu wanita saja. Naluri lelaki ku membuatku merasa di umur yang masih muda ini, belum waktu nya untuk serius. Yang ada hanya bersenang-senang.

"Duh, yang mana ya, ngga. Bingung nih, ada banyak." Pamerku sembari menyodorkan telepon genggamku untuk diliat Angga dan teman-teman lain yang langsung disambut dengan cemoohan iri dari mereka. Aku hanya tertawa bangga.

"Mbok kamu tu tobat, atau paling enggak bagi-bagi, kasian tu lho Fandi cuman bisa iri, ngejar cewek dari dulu gak dapet-dapet." Ujar Ali yang entah ditujukan untuk mengejek ku atau Fandi, temanku yang lain lagi, yang jelas begitu kata-kata Ali keluar, semua nya langsung menertawakan Fandi. Yang di tertawakan hanya menggaruk rambut nya yang tidak gatal sembari tersenyum pasrah.

Aku dan Fandi ini memang bagai langit dan bumi. Hidupku dikelilingi banyak wanita, sedangkan Fandi selalu gagal mendekati wanita. Secara fisik, ia tidak buruk-buruk amat, ya jauh sih kalo dibandingin aku, haha. Tapi semua yang jadi masalah adalah kemampuan komunikasi nya. Dia selalu gagu kalau sudah berhadapan dengan wanita idamannya. Gimana mereka bisa mau kan kalo gitu?

Selebihnya, kami menghabiskan waktu dengan merokok di kantin kampus sembari menunggu waktu untuk absen. Di fakultas kami, absen kuliah sudah memakai teknologi finger print yang bisa kami lakukan 15 menit sebelum dan sesudah kelas. Kebetulan tadi kami sampai disini ketika jam kelas sudah dimulai sehingga kami harus menunggu kelas selesai untuk melakukan absen.

"Kamu mau kemana dam habis ini?" Tanya Angga ketika aku dan yang lainnya sudah selesai melakukan absen dan beranjak keluar kelas. "Mau jalan nih sama anak FEB yang aku ceritain kemarin." "Juh, emang beruntung banget kamu." Ujar Fandi terlihat sekali iri. "Yaudah ya, aku duluan." Jawabku tersenyum bangga. Aku selalu merasa bangga sebagai lelaki jika menaklukkan banyak wanita, itu seperti sudah tertanam kuat di pikiranku sedari aku SMA.

Masa SMA ya, haha. Aku bersekolah di salah satu SMA Swasta berbasis Islam yang cukup terkenal dengan kemampuan materil siswa-siswa nya dan disini, hobi ku mendekati banyak wanita dan berganti-ganti pasangan just for fun, dimulai. Jika kalian bertanya apakah aku pernah berpacaran yang serius dalam artian aku mencurahkan semua perhatian, iya pernah. Sewaktu SMP sampe awal SMA. Waktu itu,,,, ah ngapain juga aku mikirin tentang itu. Gatau ya kenapa akhir-akhir ini tiba-tiba selalu aja keinget mantanku waktu SMP dulu. Freak banget nih otakku. Udah lah lupain dulu Dam, ini kan kamu mau seneng-seneng.

Ketika sedang asik-asiknya memperhatikan pengamen di sebuah lampu merah, earphone yang aku pakai tiba-tiba memainkan musik keras yang membuat aku kaget sendiri. Sialan, sebuah telpon ternyata. Dari Andre, temen SMP dan SMA ku. Ngapain, tumben banget.

"Halo Andre my man. Ngapain cuk tumben banget telpon ni orang." Sapaku bersemangat, meskipun bertanya-tanya juga sih. "Mmmm.. kamu udah denger beritanya belum, Dam?" Duh apaansih ini, serius banget nada bicaranya Andre. "Kenapa, cuk?" Tanyaku. "Kamu inget Carol?" Mantanku waktu SMP-SMA yang aku ceritakan tadi. Kenapa dia? Mau nikah? Duh kok mikir itu aja aku jadi deg gimana gitu ya.

"Inget lah, kenapa woi? Berita apa?" "Oh.. jadi belum denger ya.. Aku kira kamu udah denger duluan." "Kenapa sih, buruan woi. Lagi di lampu merah nih aku, jangan bikin aku teriak-teriak sampe diliatin orang, dong." "Hmmm.. dia tadi pagi... meninggal, Dam." MENINGGAL, DAM. meninggal, dam. Carol, Carol yang itu kan? Yang dulu selalu ngeliatin aku sambil senyum manis banget. Carol, carol yang itu kan?

"Halo, Dam, woi, dam." Aku tidak tahu sudah diam berapa lama, yang jelas lampu didepan sudah hijau dan bunyi klakson dibelakangku sudah terdengar. Aku memajukan pelan motorku masih dengan tatapan kosong, aku masih belum bisa berbicara apapun. Carol yang itu, kan?

"Kamu... serius?" Tanyaku lemas setelah berhasil melewati perempatan mengerikan itu dan menepikan motorku. "Iya, Dam..." "Trus sekarang Carol nya dimana?" "Baru aku mau bilang, jenazah nya lagi mau dipulangin dari Bandung ke Jogja ini. Mungkin Seblum asar nanti udah sampe. Ayo layat bareng sama temen-temen." Aku masih lemas. Aku laki-laki dan aku jarang menangis karena wanita, bahkan tidak pernah. Tapi siang ini, aku di pinggir jalan raya yang ramai menitikkan air mata. Keramaian yang tiba-tiba menyepikan. "Yaudah, nanti ketemu di tongkrongan ya. Aku langsung kesana aja sekarang." Kataku akhirnya setelah setengah mati menahan isakan kemudian kututup telpon nya.

Sedari aku tutup telponnya sampai detik ini, aku selalu membayangkan bagaimana nanti jika aku berhadapan dengan jenazahnya. Sebuah pertanyaan yang saat ini terjawab. Apa yang aku rasa? Hancur. Aku bahkan tidak sempat melihat sosok nya untuk terakhir kali. Iya sedari ia datang sampai sekarang, kain kafan membalut tubuhnya yang pernah aku peluk dengan bahagia itu. Mau tidak mau, selain lagu Semua Tentang Kita nya Peterpan, memori ku dan dia terus bermain di pikiranku.

Melihat sosok nya dengan kain putih tidur di hadapanku semakin membuatku ingat bagaimana kasih sayang seutuhnya yang dulu ia beri padaku. Tentang tawa nya, tentang sikap nya yang manis, tentang kesabarannya menghadapiku, tentang semua kesabarannya mengajariku tentang hidup. Tiba-tiba aku ingat dengan jelas bagaimana ia tersenyum dan memanggil namaku. Ia selalu memiringkan kepala nya ketika menyambutku datang sembari memanggil histeris. "Adam!" Aku masih ingat betapa cantiknya ia disaat acara wisuda smp ku. Kita berdua tersenyum kearah kamera malu-malu. Gestur kita cukup kaku, tapi saat itu kita tahu kalau hati kita saling menyahut.

Tiba-tiba aku teringat dari semua wanita yang ada di hidupku selain ibuku, dia adalah yang terbaik. Yang paling sabar, yang tidak banyak menuntut, tidak pernah marah-marah tidak jelas. Dari sekian banyak wanita mau aku manja, hanya dia yang dewasa. Dia manja terhadapku dengan caranya sendiri, cara yang dewasa dan aku sayang sekali kepadanya.

Lalu mau tidak mau aku mengingatnya, kejadian yang mungkin merusak dirinya. Kejadian yang membuat nya meninggalkan Jogja. Selepas lulus Sekolah Menengah Pertama, kita berbeda sekolah. Dia masuk ke sekolah negeri favorit di kota ku. Pada awalnya kita masih rutin bertemu seminggu dua sampai tiga kali. Namun lama-lama, aku tergoda dan sengaja menjaga jarak. Aku tergoda belasan wanita di sekolahku, belum sekolah-sekolah lain. Iya, tidak bisa dipungkiri pergaulanku semakin luas dan semakin lama orientasi ku mulai berubah. Aku menjadikan wanita hanya sebagai tempat bersenang-senang saja. Sementara Carol? Aku mulai tidak menganggapnya penting. Aku menjajarkan dia dengan wanita-wanita yang bisa aku goda kapan saja yang aku harap Carol tidak mengetahui nya.

Tapi sepintar-pintar nya aku menyembunyikan, dunia itu sempit, man! Apalagi Jogja. Kejadian itu terjadi begitu saja. Carol sakit hati dan pergi. Aku tenang-tenang saja. Masih banyak wanita yang menunggu untuk aku bahagiain. Ngapain harus susah-susah karena satu cewek, kan? Carol pindah ke Bandung tidak lama setelah itu. Aku mengucapkan salam perpisahan pun tidak. Ia juga gak pamit kok, gimana lagi?

Tapi ya namanya manusia normal, semakin lama kamu semakin merindukan sesuatu yang sudah lalu dan ketika kamu benar-benar kehilangannya untuk selamanya, segala rasa itu akan ada. Sedih, sesal, marah, kecewa, semua perasaan negatif itu singgah.

Setelah dari pemakaman yang menyedihkan itu, aku hanya bisa datang kerumah Fandi, orang paling mellow di antara yang lain dan malam itu, aku, ditemani Fandi, menjadi lelaki paling menyedihkan. Aku bersalah dan bahkan kata maaf belum aku ucap sampai ia pergi. Mungkin kata maaf itu adalah sesuatu yang dia butuhkan, dan aku baru bisa mengucapnya ketika ruh sudah tidak ada di raga, di depan liang lahat nya. Entahlah, mungkin selama nya aku akan merasa bersalah.

"...terlihat jelas di mataku warna-warna indahmu, menatap langkahmu meratapi kisah hidupmu, terlihat jelas bahwa hatimu... Anugerah terindah yang pernah kumiliki."

Pada akhirnya lagu itu mengantarkan ku, Fandi, Angga dan Ali ke Bandung. Mencoba menatap kembali langkahnya disana, menyusuri sisa hidupnya dan melihat sisa tawa yang ia bagi pada sekitarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar