Sabtu, 02 September 2017

Pesta

Malam terlalu malam. Dan bising? Terlalu bising. Puluhan manusia menari di depanku, merayakan apa saja yang bisa dirayakan. Pesta, mereka menyebutnya pesta. Apa saja mereka pesta kan. Aku? aku sendiri tidak akan berada di sini jika bukan karena matamu. Iya, kamu. Manusia masih menari, lampu taman itu masih menyala terang. Gugusan bintang membentuk senyum mu. Iya, kamu.

Aku tidak mengingat apapun kecuali purnama yang Tuhan titipkan di wajahmu. Aku tidak memandang ke arah lain selain pusat waktu dunia yang Tuhan tanamkan di gerak gerik mu. Dan aku, tidak mendengar nyanyian lain selain pesan penenang terbaik yang Tuhan anugerahkan dalam tiap nada kicauan mu.

Daun-daun di pohon atas sana masih ikut menari, mengokohkan dahan nya yang kini disinggahi burung hantu. Entahlah, aku tidak tahu sejak kapan burung hantu suka berpesta. Karena yang berpesta di pikiranku dari tadi hanya tawa mu.

Jika aku punya kuasa penuh atas waktu, maka berhentilah waktu saat itu selama berabad-abad. Ya, seorang lelaki aneh yang menyebut diri nya pencinta, sedang menghentikan waktu sekian puluh abad untuk melukiskan sosok mu di kanvas terindah di dunia. Aku ingin, sungguh aku ingin melukiskan diri mu di setiap darah mengalir. Agar apa? Agar aku selalu menyatu dengan segala entitas hidup mu.

Pesta yang aneh, lampu taman sudah berubah menjadi menara persembahan raja. Alunan musik keras tiba-tiba berubah menjadi sebuah orkes mengerikan abad pertengahan. Orkes yang memainkan musik-musik pembantaian. Namun aku tak bergeming. Aku justru tersenyum dan melangkah. Karena kini, aku berhasil menangkap mu dalam pikiranku. Dan untuk saat ini, itu lebih dari cukup.

Muhammad Reno Fandelika
Selasa, 8 Agustus 2017 21:55

Tidak ada komentar:

Posting Komentar