Percayalah, kamu tidak rindu dia. Kamu hanya rindu ketika jam 2 pagi kamu tidak terlelap, dia yang dahulu ada menemani mu. Kamu hanya rindu ketika kamu lelah dengan hidupmu yang membosankan, dia datang memberi warna dan semangat baru.
Kamu tidak rindu dengan sosoknya, kamu hanya ingin merasakannya lagi, ketika waktu istirahatmu di taman sekolah diisi dengan canda tawa penuh makna yang sampai sekarang tidak pernah kamu rasa lagi sejak kau meninggalkannya.
Engkau persetan dengan dia, kecuali senyumnya ketika memberi mu minuman dan segelas semangat saat kau berjalan keluar dari lapangan itu. Rasa mu ke dia sudah lama mati. Namun kenangan yang pernah kalian usahakan bersama tetap hidup, bahkan membayangi langkahmu kemana pun kau menuju.
Panggilan sayang itu hanya aib masa lalu, namun tidak dengan panggilan telepon ketika kau ingin bercerita banyak sembari melepas yang namanya rindu. Kau sudah lama melupakan sosoknya, begitu juga dia yang sudah menemukan penggganti dirimu. Lalu mengapa sebercik keikhlasan yang sejak dahulu kau cari itu tidak pernah kau temukan?
Percayalah, sekali lagi percayalah, kau tidak bisa membasuh luka dengan luka. Kau tidak bisa menumpuk kenangan dalam kenangan, dari orang yang sama. Kau memang tidak rindu dengan dia. Namun, semua itu hanya omong kosong belaka. Pada inti nya, seberapa jauh kau berusaha melupakannya, kau tidak akan pernah benar-benar melupakannya sampai sel-sel dalam otakmu berhenti mereproduksi sesuatu yang bernama kenangan.
Muhammad Reno Fandelika
Minggu, 27 Agustus 2017 23:06
Tidak ada komentar:
Posting Komentar