Sabtu, 11 Agustus 2018

Aku Rindu

Kepada laki-laki paling beruntung yang pernah, masih, dan akan dicintai oleh nya, mengertilah bahwa kalian adalah orang-orang terpilih yang berhasil mendapatkan sesuatu yang sangat berharga, Sesuatu yang mewah, yang tidak bisa dibeli oleh harta. Maka jagalah dia dengan sesungguhnya. Tidak banyak yang bisa ada di tempat kalian. Tidak banyak orang yang dipercaya menjaga nya, mencintai nya, dan bersamanya, maka jangan sampai biarkan ia terluka. Wanita itu, yang sangat aku cinta, layak mendapatkan sesuatu yang istimewa. Tidak hanya dalam kata namun juga rasa.

Kepada laki-laki paling beruntung, ijinkan aku berharap suatu saat ada disitu. Karena jujur, susah payah aku melepas wanita indah serupa rasa bahagia itu.

Kamis, 02 Agustus 2018

Atas Nama Semua Kesempatan

Marilah angkat gelasmu, atau tanganmu, atau kepalamu untuk semua kesempatan yang terlewatkan. Untuk dua hati yang seharusnya bisa bersama tapi tidak, untuk semua mimpi yang seharusnya dapat kau jalankan tapi tidak, Atas nama semua peluang yang kau buang karena kesempatan yang kau sia-siakan.

Aku dan kau, kita semua percaya Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan adil dan penuh perhitungan. Seperti Tuhan menciptakan tujuan yang kemudian dilengkapi dengan kesempatan. Kita dan mereka sadar tidak ada satupun insan di dunia yang hidup tanpa garis akhir yang harus digapai.

Atas nama semua kesempatan yang terlewatkan, terlalu banyak kisah, tentang ayah yang tidak bisa menyekolahkan anaknya, tentang ibu yang tidak bisa menyaksikan buah hatinya tumbuh karena karir? atau karena harus bekerja di negara tetangga? Terlalu banyak, tentang seniman yang harus mengubur mimpinya, atau tentang calon bintang lapangan yang harus hidup dengan kaki yang luka selamanya, tentang cinta yang seharusnya saling menemukan jalan pulang tapi justru sama-sama tersesat dan berhenti menyapa.

Atas nama semua kesempatan, kau dan aku terlalu sibuk pergi ke selatan, lalu terlalu lama mencari arti untuk sama-sama mengerti. Aku dan kamu terlalu lelah untuk saling mendengar sehingga semua kata dengan mudahnya terlanggar. Kita terlalu sibuk berkelana dengan hati masing-masing sampai akhirnya terpagut oleh makna yang lain dan tenggelam oleh pesan yang lain.

Atas nama semua kesempatan, mari bersulang dalam doa, berharap akan selalu ada yang kedua dan ketiga. Karena manusia tidak pernah lepas dari egonya, seperti kucing rumahan yang selalu menuntut sang majikan.

-Kamis, 2 Agustus 2018. 17:00

Pada Suatu Pagi

Pagi hari adalah refleksi diri. Ketika pada akhirnya kamu benar-benar terbangun dan melupakan segala mimpi. Kamu benar-benar akan tersadar dan mengingat semua yang terjadi hari kemarin. Pagi hari adalah sebuah evaluasi hati. Mengingat apa yang sudah dilalui dan memaksa pikir memilih suasana seperti apa yang akan mengisi sepanjang hari. 

Sejujurnya, aku pernah sangat mencintai pagi hari, ketika kemarin tidak ada tempat untuk perih. Ketika kemarin, tawaku dan tawamu bersatu lirih dalam suatu bahagia yang aku sebut kasih. Pada masa itu, di suatu pagi, aku tidak ingin tertidur lagi karena untuk apa bermimpi kalau aku sudah menjalani mimpi.

Lalu pada suatu pagi, tiba tiba, aku terbangun dan gairahku terhenti. Tiba-tiba, aku hanya bisa menunduk dan memandangi diri, berharap tertidur dan bermimpi. Tiba-tiba, aku membenci pagi hari. Sangat membenci.

Tapi waktu terus beranjak, fajar tidak selamanya bertahta. Siang datang dan kamu selalu punya pilihan; jatuh dan terpuruk, atau bangkit dan curi lagi mimpi. Entah dengan hati yang lain, kondisi yang lain, atau kekuatanmu yang lain.

Jumat, 27 Juli 2018

Kamu, Pernah

Kau pernah membuatku menjadi orang paling bahagia, membuat semua mimpi-mimpiku menjadi nyata. Semua terjadi begitu cepat. Bukan sebuah hal yang baru bagiku untuk mencinta, bukan hal baru juga aku harus menunggu. Aku mengenalmu belum terlalu lama, cukup beberapa bulan saja namamu sudah mengisi pikiran, juga menjadi penyemangat jiwa. Sedari awal, aku sudah menaruh sebuah harapan paling tinggi yang bisa digantungkan manusia di bumi. Aku sering bermimpi tentang kita, tentang tangan yang menggenggam, tentang peluk yang menggema erat.

Kamu pernah membuat mimpi tidak hanya sekedar bualan tidur belaka. Iya, dengan sadar kita berdua menjalankannya. Kamu pernah membuat aku menjadi orang paling bahagia di dunia. Kamu pernah membuatku berhenti mencari dan berhenti. Aku masih ingat jelas bagaimana rasa senang itu ketika kamu akhirnya bisa aku rengkuh. Semua isi dunia ingin aku habisi, aku siap meraih puncak tertinggi. Aku bahagia. Ingin aku teriakan kepada semua isi dunia kalau aku bahagia.

Kamu pernah membuatku rasakan semua. Sedihnya, semua hanya sekedar pernah. Iya, pernah adalah sesuatu di masa lalu yang artinya hanya bisa dirasakan dahulu, tidak sekarang, tidak masa depan.

Rabu, 25 Juli 2018

Formulasi Hati

Selamat pagi kamu yang dulu memandangku sebagai lelaki kesayangan. Apa kabar? Baik kan hidup mu tanpa aku? Tentu saja baik. Ingat kan dulu sebelum ada kita, aku selalu berkata bahwa aku akan menghapus segala luka. Nyatanya? Malah aku yang menciptakan luka itu sendiri kepada mu yang aku yakini bisa aku jaga sepenuh hati. Wahai masa lalu, kamu harus tahu sejak aku mengenalmu, aku bukanlah diriku yang dulu, aku berubah menjadi lebih dewasa dalam mencinta. Lalu sejak aku mengenalmu, aku tahu mimpi diluar sana sangat mudah untuk diraih, dan pada akhirnya kita bisa mendapatkannya kan, berdua?

Hidup bersamamu bukanlah penyesalan, lebih ke anugerah. Aku menikmati setiap detik yang berharga. Menjelajahi ribuan jalan yang tidak pernah aku pikirkan lalu bersama-sama kita lupakan kata pulang. Ingat siang itu? Saat kita sedang menikmati es kelapa di pinggir pantai di suatu daerah di pesisir pulau jawa? Lalu tiba-tiba datang sekelompok anak yang duduk melingkari kita meminta obrolan. Aku masih ingat wajah kaget mu yang lucu itu. Tapi apa? We did it. Kita bisa menghadapi itu dengan baik, aku dan kamu. Ingat ketika kita menyusuri hutan di perbatasan jawa bagian tengah dan barat lalu tiba-tiba mobilku tidak mau bergerak? Aku dan kamu panik pada awalnya, kepanikan yang berujung kebahagiaan karena kita memilih tidak memikirkannya, namun justru duduk bersebelahan menikmati suguhan pohon dan angin, dengan menu favorit kita yaitu tawa. Masih banyak lagi yang bisa aku ceritakan tapi aku memilih untuk tidak, karena aku tahu cerita kita akan memakan tempat yang banyak. Yang jelas, waktu ku dan kamu, waktu kita, adalah waktu terbaik dalam hidup.

Namun pada akhirnya, manusia tidak bisa lepas dari kata salah. Aku mulai melakukan hal-hal yang tidak seharusnya aku lakukan. Aku mulai.... lepas kendali. Pada awalnya satu dua kesalahan masih dimaafkan dan kau kembali, bahkan lebih erat lagi. Sayangnya hal itu terus terjadi dan yang aku takutkan terjadi. Kesempatan itu? Tidak ada lagi. Kamu sudah cukup memberiku kesempatan dan akhirnya kita kembali menjadi dua kata yang berbeda. Apa yang aku rasa? Hampa. Aku tidak menangis, aku tidak tertawa, aku tidak bersedih, aku tidak bahagia. Kosong dengan begitu saja. Karena segala rasa yang bisa aku rasa sudah pernah kita cipta sebelumnya, dan aku tidak mau mengenangmu dengan rasa sakit itu.

Kita semua sepakat, melupakan kenangan adalah hal yang berat. Sekarang tinggal bagaimana aku benar-benar bisa meletakkan kenangan kita di masa yang sudah lalu saja. Karena baik aku dan kamu punya masa depan masing-masing. Aku harap kamu bahagia, seperti aku harap diriku ini bisa menemukan bahagia yang lebih dari yang kau berikan. Meskipun sepertinya susah, karena kadar bahagia yang kita ciptakan lebih dari apapun yang pernah aku rasakan.

Dengar Pesanku, Raba Lisanku

Kamu itu teka teki tersusah yang pernah aku coba pecahkan. Menantang, tapi menenangkan. Di lain waktu aku senpat berpikir, apa memang tidak ingin dipecahkan adalah sesuatu yang kau ingini? Tapi, kau adalah teka teki terhebat yang pernah aku coba jawab. Memecahkanmu mendewasakanku. Menggenggammu, memburu indraku.

Kepada kamu yang memiliki hati lebih keras dari apapun di muka bumi, aku menunggumu disini dan tak lelah menanti. Jangan kau percaya semua kata lelah karena untukmu aku tidak pernah lelah. Bukankah kita pernah menyanyikannya bersama? Iya, kita pernah menyanyikannya bersama dengan keyakinanku kalau aku yakin dan percaya, malaikat pasti tahu siapa yang jadi juara nya.

Lalu, maafkan aku disela-sela keyakinanku kalau aku masih merasa takut. Karena untuk apa rasa kalau tidak dirasa, bukan? Maafkan aku kalau terkadang aku masih tidak percaya diri. Rasa tidak percaya diri yang membunuhku disini. Rasa tidak percaya diri yang menuntunku kepada jutaan rasa yang lain. Seperti menghapus luka dengan luka yang lain.

Hai, wanita serupa teka teki dengan benda keras yang kau sebut hati. Aku tahu, benda itu sudah mati. Tapi cobalah menemuiku dan cari rasa itu lagi. Karena bersamaku, aku tahu ini tidak hanya sekedar aku atau kamu. Karena bersamaku, aku tahu semua ini bisa menjadi kita dengan keindahan yang tidak biasa. Temui aku, tak perlu kau tanya dimana, karena aku yakin kau pasti tahu.

-Rabu, 25 Juli 2018. 19:11

Jumat, 20 Juli 2018

Cerita Tentang Angin

Aku tidak pernah menyukai angin dulunya, karena untuk apa ia ada kalau tidak bisa menghilangkan dahaga. Bahkan terkadang dengan tidak jelasnya ia memberikan rasa dingin yang terlampau dingin. Apa sih maunya?

Aku tidak pernah menyukai angin, tidak pernah sampai aku bertemu seorang gadis. Ia menunjukkan apa makna hadirnya angin. Ia menunjukkan kalau kesejukan itu menentramkan. Ia menunjukkan keramahan dari sesuatu yang tidak pernah aku temukan.

Aku kini menyukai angin, dan seorang gadis. Aku suka bagaimana ia menatapku seolah tak ada orang lain lagi. Aku suka bagaimana ia, bersama anginnya, menyentuh hati yang biasanya hampa.

Aku kini terobsesi oleh angin, karena setiap aku merasakan nya menyentuh kulitku, aku teringat pada sosok itu. Meskipun untuk saat ini; atau entah sampai kapanpun itu, ia masih berpetualang dan belum menjatuhkan pilihan.


-Jumat, 20 Juli 2018

Tersenyumlah, Luka

Selamat malam notifikasi terfavorit di telepon pintarku. Lucu ya, mereka menyebutnya telepon pintar namun kenyataannya justru membuat penggunanya terlihat bodoh memandangi layar menunggu jawaban dari yang tersayang.

Baiklah, boleh aku berbicara? Bolehkah kau ku puja? Atas senyum mu yang merekah bagai mawar ketika tersenyum kepada pemiliknya. Atas tatap yang menghunus sukma, seperti panah cinta yang mengerti kemana harus pulang. 

Sayangnya, semua itu kini menghilang, seiring semangatmu yang berpetualang. Lalu bolehkah kau ku tenangkan? Bolehkah kau ku jaga dari segala bahaya? Bolehkah pelukku menghapus luka?

Hai kamu yang duduk disana dengan senyum membiru, cuma kamu yang tahu jawabnya. Tapi tak apa, tanpa jawabmu pun aku telah bersumpah menghapus segala yang membuatmu luka.


-Rabu, 18 Juli 2018

Pesan Untuk Sang Waktu

Wahai sang waktu, sudikah kamu istirahat disebelahku? Aku ingin menatap mata itu lebih jauh. Aku ingin tenggelam disana selamanya. Ah, seandainya foto dan lukisan tidak hanya tentang gambar tapi rasa. Ah, seandainya apa yang aku lakukan dan inginkan bisa diabadikan selamanya. Sudah jelas aku akan memasangnya di kamar tidurku, atau bahkan di ruang tengah rumahku.

Wahai sang waktu, sudah terlalu lama aku tanpa rasa itu. Duduk berdua dengan dia, yang tersayang, menikmati malam yang berhias bintang. Bisakah kau ulang lagi untukku? Aku belum cukup merengkuh hati itu. Aku belum selesai rasakan bahagia ku dan kamu. Bahkan dua tangan yang menggenggam belum ingin aku lepaskah. Ah, bolehkah kau putar lagi satu malam tadi?

Wahai sang waktu, dan harapanku bersamamu, sudikah kau intip masa depanku dan sertakan sosok itu? Aku bukan ingin menerka-nerka, aku juga bukan ingin langkahi sang kuasa, aku hanya ingin berdoa. Semoga satu waktu didepan, akan ada kita tanpa dia tanpa mereka.

Wahai sang waktu, kau mungkin tak pernah tahu seberapa dalam rasa itu, untuk wanita yang bahkan tak pernah memelukku, namun dia yang aku mau, sejauh apapun langkahku. Karena atas nama semua hati, aku tidak pernah seyakin ini.


-Minggu, 15 Juli 2018

Boleh ku Titipkan Salam?

 Selamat siang, bolehkah aku titipkan salam? Tidak terlalu berharga memang, namun ini sesuatu yang spesial dan tidak boleh dilewatkan.

Baiklah, mari aku mulai ucapkan isi salamku. Tolong sampaikan kepada wanita indah diujung sana, kalau disini aku menunggu dia. Tidak hanya menunggu, namun aku siap menjaga. 

Jika kau tanya menjaga apa? Aku siap jelaskan. Kau tau air mata? Aku tidak ingin itu jatuh di wajah memerah nya. Kau tau luka dan kecewa? Tenang, itu memang dua kata yang buruk, tapi tidak ingin aku biarkan menimpa dia. Aku ada, akan selalu ada untuk dirinya dalam tangis atau pun tawa. Baik saat diatas atau dibawah. Bukankah cinta tidak mengenal keadaan? Lelaki hina seperti apa yang memandang pasangan dari keadaannya lalu meninggalkan.

Baiklah angin, itu saja untuk sekarang. Tolong sampaikan kepada wanita disana. Kau tau kan yang mana? Iya, yang memiliki nama sama seperti mu, angin kesejahteraan.

-Reno Fandelika. Selasa, 10 Juli 2018

Catatan dari Masa yang Tak Hilang

Kita terpisah sekat, bisakah kita menjadi dekat? Sini temani aku. Bisa aku pastikan kau menjadi anugerah terindah ku


-Minggu, 24 Juni 2018

But then there was you.

Iya, ada kamu, aku tidak lagi rindu. Ada kamu? Muncul semangatku. Aku merasa semua berat, pada awalnya. But then there was you. Datang tiba-tiba dan bisa dengan mudah curi hati ku, lelaki yang terkenal dengan kesendiriannya itu.

-Minggu, 24 Juni 2018

Aku tak tahu jika tak ada kamu, apakah aku bisa jalani itu? Aku jatuh tak hanya karna parasmu namun juga pribadimu. Maka izinkanku untuk berubah dan izinkanku untuk merubah semua hal yang mungkin bisa menyakitkan raga maupun jiwa. Karna aku ingin menjagamu sepenuh hati baik saat ini maupun saat nanti

-Selasa, 26 Juni 2018

Hari ini aku mendengar cerita tentang masa lalu mu. Bisakah aku menjadi bagian dari kisahmu? Karena itu semua yang aku mau. 

Seseorang dari masa lalu mu pernah menunggumu. Lalu, bolehkah aku? Meskipun aku yakin ini tidak sesederhana itu. Ini perjalanan yang berat, tapi aku yakin aku kuat. Aku akan menunggu mu dengan sangat.

-Rabu, 27 Juni 2018

Tidak mungkin aku melewatkanmu. Namun keadaan harus memaksaku seperti itu. Satu yang aku selalu lupa, belum pernah ada kita. Aku dan kamu masih sebatas asa. Karena jauh disana, ada satu batas pisahkan kita. 

Tidak mungkin aku melewatkanmu, hanya saja, aku harus merindumu lebih dalam lagi.

-Sabtu, 30 Juni 2018

Kau dan aku, bersama kita lewati sore itu. Tidak perduli kita dua raga yang meragu. Kita sama-sama percaya angin itu tidak cukup untuk meruntuhkan yakin kita.

-Selasa, 3 Juli 2018

Mengalah bukan hal baru untukku. Tapi, bisakah aku melewatkanmu? Ku tak ingin melewatkanmu.

-Kamis, 5 Juli 2018

Terlalu banyak yang aku nikmati sendiri; lampu kota boyolali yang aku saksikan tersenyum dari tempat yang tinggi, juga bintang-bintang di langit, memaksaku membayangkan sosok mu ada disini. Keluarlah temani raga ini nikmati syahdu nya malam hari. Karena yang aku minta hanya sosok yang menerima kerendahan hati.

-Kamis, 5 Juli 2018

Bagaimana aku bisa melepasmu kalau setiap gerak-gerikmu masih menggugah pikirku. Kalau setiap teriakanmu masih membuatku takut ada yang menyakitimu.

-Sabtu, 14 Juli 2018


Jumat, 08 Juni 2018

Ada Satu Masa

Ada satu masa dimana aku hanya ingin terbang, tanpa peduli pulang
Ada satu masa dimana indraku menolak patuh, dan semua yang ia mau hanya kebebasan yang utuh
Aku tidak pernah menginginkan samudera, dulunya
Karena seandainya selamanya itu ada, aku selalu bisa merasa, dan berada

Menepis kesendirian adalah sebuah keagungan
Melebur semua kalimat tanya, akan membawamu jauh kedalam rasa
Pernah ada satu masa dimana semua yang aku puja, menatapku dengan hampa
Lalu pernah ada masa kau menyerahkan jiwa begitu saja, tanpa kata iya

Entah itu di masa depan atau masa silam, aku menemui diriku yang diam, hanya bisa menatap karena semua menghitam
Jauh, jauh, kau butakan aku jauh
Tingi, tinggi, kau terbangkan aku tinggi
Untuk saat ini, semua menolak pergi. Mereka lebih memilih terdiam dan terhenti, termasuk mimpi

Atas nama segala rasa dan manusia yang menjalani nya, aku hanya ingin sebuah warna
Karena semua sesal tidak pernah menunggu tuannya untuk sadar
Karena pada masa yang jauh di depan semua yang aku punya hanya kenang
Hitam putih saat ini, akankah kau bawa saat nanti?

Rabu, 25 April 2018

Kamu Yang Selamanya Pergi, Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki

"Melihat tawamu, mendengar senandungmu..." Lagu yang sama termainkan berulang kali di mobil yang sama, bersama orang-orang yang sama. Saat ini apa yang aku inginkan hanya mengutuk dunia, juga diriku sendiri.

Sebelumnya perkenalkan, namaku Adam. Aku mahasiswa semester dua yang sedang terluka. Akhir-akhir ini dunia berputar puluhan kali lebih cepat. Pikiranku melayang kemanapun ia mau. Semua yang membebaniku dimulai tepat minggu lalu.

Hari itu Selasa, tanggal 26 April dan seperti biasa, kuliah menyita waktu ku. Aku adalah mahasiswa semester dua di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Jurusannya? Biar menjadi rahasia. Yang jelas, kultur di jurusan ini selalu panas. Beruntung aku mempunyai teman-teman dekat yang baru aku kenal diawal kuliah seperti Angga, Ali, Fandi, Bagas, Kus, dan Dwi.

Hari ini tidak jauh beda. Seperti kebiasaanku dan teman-teman, waktu kuliah adalah waktu paling baik untuk mengeluh. Entah siapa yang harus disalahkan tapi pada akhirnya kami menyadari kalau kuliah itu tidak harus didalam kelas. Ilmu bisa kita dapatkan dimanapun dan kapanpun kita mau. Ya, meskipun itu lebih ke pembenaran diri atas pembolosan masal yang biasa kami lakukan. Seperti hari ini juga, pada akhirnya kantin adalah tempat kami berkuliah, bukan kelas.

"Cewek mana lagi itu yang kamu mainin?" Angga mengusik ku ketika sedang asik berbincang dengan wanita-wanita cantik incaranku di sosial media. Perlu kalian ketahui, aku tidak bisa berkomitmen dengan satu wanita saja. Naluri lelaki ku membuatku merasa di umur yang masih muda ini, belum waktu nya untuk serius. Yang ada hanya bersenang-senang.

"Duh, yang mana ya, ngga. Bingung nih, ada banyak." Pamerku sembari menyodorkan telepon genggamku untuk diliat Angga dan teman-teman lain yang langsung disambut dengan cemoohan iri dari mereka. Aku hanya tertawa bangga.

"Mbok kamu tu tobat, atau paling enggak bagi-bagi, kasian tu lho Fandi cuman bisa iri, ngejar cewek dari dulu gak dapet-dapet." Ujar Ali yang entah ditujukan untuk mengejek ku atau Fandi, temanku yang lain lagi, yang jelas begitu kata-kata Ali keluar, semua nya langsung menertawakan Fandi. Yang di tertawakan hanya menggaruk rambut nya yang tidak gatal sembari tersenyum pasrah.

Aku dan Fandi ini memang bagai langit dan bumi. Hidupku dikelilingi banyak wanita, sedangkan Fandi selalu gagal mendekati wanita. Secara fisik, ia tidak buruk-buruk amat, ya jauh sih kalo dibandingin aku, haha. Tapi semua yang jadi masalah adalah kemampuan komunikasi nya. Dia selalu gagu kalau sudah berhadapan dengan wanita idamannya. Gimana mereka bisa mau kan kalo gitu?

Selebihnya, kami menghabiskan waktu dengan merokok di kantin kampus sembari menunggu waktu untuk absen. Di fakultas kami, absen kuliah sudah memakai teknologi finger print yang bisa kami lakukan 15 menit sebelum dan sesudah kelas. Kebetulan tadi kami sampai disini ketika jam kelas sudah dimulai sehingga kami harus menunggu kelas selesai untuk melakukan absen.

"Kamu mau kemana dam habis ini?" Tanya Angga ketika aku dan yang lainnya sudah selesai melakukan absen dan beranjak keluar kelas. "Mau jalan nih sama anak FEB yang aku ceritain kemarin." "Juh, emang beruntung banget kamu." Ujar Fandi terlihat sekali iri. "Yaudah ya, aku duluan." Jawabku tersenyum bangga. Aku selalu merasa bangga sebagai lelaki jika menaklukkan banyak wanita, itu seperti sudah tertanam kuat di pikiranku sedari aku SMA.

Masa SMA ya, haha. Aku bersekolah di salah satu SMA Swasta berbasis Islam yang cukup terkenal dengan kemampuan materil siswa-siswa nya dan disini, hobi ku mendekati banyak wanita dan berganti-ganti pasangan just for fun, dimulai. Jika kalian bertanya apakah aku pernah berpacaran yang serius dalam artian aku mencurahkan semua perhatian, iya pernah. Sewaktu SMP sampe awal SMA. Waktu itu,,,, ah ngapain juga aku mikirin tentang itu. Gatau ya kenapa akhir-akhir ini tiba-tiba selalu aja keinget mantanku waktu SMP dulu. Freak banget nih otakku. Udah lah lupain dulu Dam, ini kan kamu mau seneng-seneng.

Ketika sedang asik-asiknya memperhatikan pengamen di sebuah lampu merah, earphone yang aku pakai tiba-tiba memainkan musik keras yang membuat aku kaget sendiri. Sialan, sebuah telpon ternyata. Dari Andre, temen SMP dan SMA ku. Ngapain, tumben banget.

"Halo Andre my man. Ngapain cuk tumben banget telpon ni orang." Sapaku bersemangat, meskipun bertanya-tanya juga sih. "Mmmm.. kamu udah denger beritanya belum, Dam?" Duh apaansih ini, serius banget nada bicaranya Andre. "Kenapa, cuk?" Tanyaku. "Kamu inget Carol?" Mantanku waktu SMP-SMA yang aku ceritakan tadi. Kenapa dia? Mau nikah? Duh kok mikir itu aja aku jadi deg gimana gitu ya.

"Inget lah, kenapa woi? Berita apa?" "Oh.. jadi belum denger ya.. Aku kira kamu udah denger duluan." "Kenapa sih, buruan woi. Lagi di lampu merah nih aku, jangan bikin aku teriak-teriak sampe diliatin orang, dong." "Hmmm.. dia tadi pagi... meninggal, Dam." MENINGGAL, DAM. meninggal, dam. Carol, Carol yang itu kan? Yang dulu selalu ngeliatin aku sambil senyum manis banget. Carol, carol yang itu kan?

"Halo, Dam, woi, dam." Aku tidak tahu sudah diam berapa lama, yang jelas lampu didepan sudah hijau dan bunyi klakson dibelakangku sudah terdengar. Aku memajukan pelan motorku masih dengan tatapan kosong, aku masih belum bisa berbicara apapun. Carol yang itu, kan?

"Kamu... serius?" Tanyaku lemas setelah berhasil melewati perempatan mengerikan itu dan menepikan motorku. "Iya, Dam..." "Trus sekarang Carol nya dimana?" "Baru aku mau bilang, jenazah nya lagi mau dipulangin dari Bandung ke Jogja ini. Mungkin Seblum asar nanti udah sampe. Ayo layat bareng sama temen-temen." Aku masih lemas. Aku laki-laki dan aku jarang menangis karena wanita, bahkan tidak pernah. Tapi siang ini, aku di pinggir jalan raya yang ramai menitikkan air mata. Keramaian yang tiba-tiba menyepikan. "Yaudah, nanti ketemu di tongkrongan ya. Aku langsung kesana aja sekarang." Kataku akhirnya setelah setengah mati menahan isakan kemudian kututup telpon nya.

Sedari aku tutup telponnya sampai detik ini, aku selalu membayangkan bagaimana nanti jika aku berhadapan dengan jenazahnya. Sebuah pertanyaan yang saat ini terjawab. Apa yang aku rasa? Hancur. Aku bahkan tidak sempat melihat sosok nya untuk terakhir kali. Iya sedari ia datang sampai sekarang, kain kafan membalut tubuhnya yang pernah aku peluk dengan bahagia itu. Mau tidak mau, selain lagu Semua Tentang Kita nya Peterpan, memori ku dan dia terus bermain di pikiranku.

Melihat sosok nya dengan kain putih tidur di hadapanku semakin membuatku ingat bagaimana kasih sayang seutuhnya yang dulu ia beri padaku. Tentang tawa nya, tentang sikap nya yang manis, tentang kesabarannya menghadapiku, tentang semua kesabarannya mengajariku tentang hidup. Tiba-tiba aku ingat dengan jelas bagaimana ia tersenyum dan memanggil namaku. Ia selalu memiringkan kepala nya ketika menyambutku datang sembari memanggil histeris. "Adam!" Aku masih ingat betapa cantiknya ia disaat acara wisuda smp ku. Kita berdua tersenyum kearah kamera malu-malu. Gestur kita cukup kaku, tapi saat itu kita tahu kalau hati kita saling menyahut.

Tiba-tiba aku teringat dari semua wanita yang ada di hidupku selain ibuku, dia adalah yang terbaik. Yang paling sabar, yang tidak banyak menuntut, tidak pernah marah-marah tidak jelas. Dari sekian banyak wanita mau aku manja, hanya dia yang dewasa. Dia manja terhadapku dengan caranya sendiri, cara yang dewasa dan aku sayang sekali kepadanya.

Lalu mau tidak mau aku mengingatnya, kejadian yang mungkin merusak dirinya. Kejadian yang membuat nya meninggalkan Jogja. Selepas lulus Sekolah Menengah Pertama, kita berbeda sekolah. Dia masuk ke sekolah negeri favorit di kota ku. Pada awalnya kita masih rutin bertemu seminggu dua sampai tiga kali. Namun lama-lama, aku tergoda dan sengaja menjaga jarak. Aku tergoda belasan wanita di sekolahku, belum sekolah-sekolah lain. Iya, tidak bisa dipungkiri pergaulanku semakin luas dan semakin lama orientasi ku mulai berubah. Aku menjadikan wanita hanya sebagai tempat bersenang-senang saja. Sementara Carol? Aku mulai tidak menganggapnya penting. Aku menjajarkan dia dengan wanita-wanita yang bisa aku goda kapan saja yang aku harap Carol tidak mengetahui nya.

Tapi sepintar-pintar nya aku menyembunyikan, dunia itu sempit, man! Apalagi Jogja. Kejadian itu terjadi begitu saja. Carol sakit hati dan pergi. Aku tenang-tenang saja. Masih banyak wanita yang menunggu untuk aku bahagiain. Ngapain harus susah-susah karena satu cewek, kan? Carol pindah ke Bandung tidak lama setelah itu. Aku mengucapkan salam perpisahan pun tidak. Ia juga gak pamit kok, gimana lagi?

Tapi ya namanya manusia normal, semakin lama kamu semakin merindukan sesuatu yang sudah lalu dan ketika kamu benar-benar kehilangannya untuk selamanya, segala rasa itu akan ada. Sedih, sesal, marah, kecewa, semua perasaan negatif itu singgah.

Setelah dari pemakaman yang menyedihkan itu, aku hanya bisa datang kerumah Fandi, orang paling mellow di antara yang lain dan malam itu, aku, ditemani Fandi, menjadi lelaki paling menyedihkan. Aku bersalah dan bahkan kata maaf belum aku ucap sampai ia pergi. Mungkin kata maaf itu adalah sesuatu yang dia butuhkan, dan aku baru bisa mengucapnya ketika ruh sudah tidak ada di raga, di depan liang lahat nya. Entahlah, mungkin selama nya aku akan merasa bersalah.

"...terlihat jelas di mataku warna-warna indahmu, menatap langkahmu meratapi kisah hidupmu, terlihat jelas bahwa hatimu... Anugerah terindah yang pernah kumiliki."

Pada akhirnya lagu itu mengantarkan ku, Fandi, Angga dan Ali ke Bandung. Mencoba menatap kembali langkahnya disana, menyusuri sisa hidupnya dan melihat sisa tawa yang ia bagi pada sekitarnya.

Senin, 23 April 2018

Mengapa Januari Selalu Disini

Aku udah lama banget pengen nulis ini, bahkan sejak orang yang aku kagumi sekaligus "temen" ku tereliminasi dari Indonesian Idol sekitar beberapa waktu yang lalu, tapi gak jadi-jadi. Di pagi yang cerah seletah tadi malam episode terakhir Indonesian Idol 2018 ini aku berpikir, mungkin ini saat nya aku cerita. Awalnya aku pengen cerita ini untuk mengobati kesedihanku waktu dia keluar, tapi sekarang udah gak sedih, jelas. Motivasiku nulis ini? Gapapa pengen aja. Pengen berbagi kisah paling membahagiakan di awal tahun 2018 ini.

Oiya aku peringatkan dulu ya, ini bakal sangat panjang jadi mohon kebijaksanaannya dalam menyikapi haha. Selamat membaca.

Cerita nya aku mulai dari awal banget. Pertama kali aku nonton Indonesian Idol 2018 di tv. Waktu itu, aku pulang dari Surabaya dan Scema, rumah produksi ku dan teman-teman, rencananya bakal ada rapat tapi sayangnya gajadi soalnya hujan. Meskipun Scema gak jadi, tapi tiba-tiba Simbah, salah satu anak Scema, dateng ke rumah. Hari itu hari Selasa 26 Desember 2017. Waktu aku sama simbah gabut dan kita inget kalo hari itu ada Indonesian Idol trus kita nonton deh, meskipun itu bukan episode pertama. Nah sejak episode itu, aku jadi tertarik buat nonton Indonesian Idol lagi. Apalagi setiap aku liat trending youtube, yang nomer satu itu peserta audisi yang namanya Marion Jola dan berhari-hari menghiasi trending sampe suatu hari pada akhirnya aku mutusin buat nonton video dia audisi yang gak sempet aku tonton di tv itu. Yang terjadi setelahnya adalah candu. Aku nyari video cover dia nyanyi, vlog nya dia di youtube, dan juga instagram nya. Aku nonton dia live instagram, liat story nya dia, reply story nya dia, dan nonton dia di Indo Idol sebagai seorang fans.

Sampe akhirnya di pertengahan Januari 2018, aku bakal ke Jakarta, mau nonton Timnas Indonesia lawan Timnas Islandia di Stadion Gelora Bung Karno yang baru dan posisi nya, aku lagi tergila-gila sama Marion Jola dan mungkin, inilah sifat dasar ku, kalo perhatian sama orang itu gak pernah setengah-setengah, makanya aku pengen banget dateng ke Jakarta tidak dengan tangan kosong, aku pengen bawain kado buat dia, buat Lala.

Setelah tekad sudah bulat, aku mikir-mikir nih, kasih kado apa ya buat dia, yang berkesan gitu. Awalnya aku mau bikin buku custom gitu di setiap halamannya ada kata2 mutiara gitu. Tapi setelah aku konsultasi sama Yoga, temenku, dia bilang nanti kalo buku malah cuman di buang, dia saranin buat beli baju atau sepatu yang lucu-lucu gitu. "Kamu besok selo? Temenin aku cari kado nya yuk?" "Jamberapa? Aku temenin." "Sore aja yaa."  oke, nice, besok setidaknya satu kado dapet.

Oiya, selain konsultasi sama Yoga, aku juga nanya di group kelompok bermain ku waktu SMA yang masih aktif sampai sekarang. "Eh aku minta pendapat dong, tolong dijawab yaaa. Aku pengen ngasih kado buat salah satu kontestan indonesian idol, enak nya aku kasih apa ya?" pahitnya sampe puluhan menit kemudian yang muncul cuman tulisan read by sekian orang dan tidak ada balasan. Sampe akhirnya satu persatu balasan muncul, "Gila banget, kamu udah terlalu gila, Ren." "Mending ngasih orang yang kamu kenal aja, Ren. Lebih berfaedah. Paling juga ujung-ujungnya yang kamu kasih itu enggak dipake." trus yaudah deh aku putus asa, bahkan aku sampe nge unsend pesan ku itu soalnya malu wkwkw untung udah ada Yoga yang mau nemenin cari kado.

Jadilah besok sore nya aku dan Yoga ketemuan dan kita berangkat ke salah satu daerah di Demangan yang isinya memang distro-distro semua. Kata Yoga, pacarnya beberapa hari yang lalu dari sana dan ada toko yang bajunya lucu-lucu gitu. Sayangnya Yoga gatau nama toko nya apa. Jadilah kita bolak-balik masuk keluar toko cuman buat nyari baju-baju cewek. Gagal, di Jalan Cendrawasih ini kebanyakan baju cowok. Akhirnya kita ke daerah Demangan sisi yang lain setelah jalan pake mobil di beberapa jalan besar, kita masih belum nemu. Ditengah keputus asaan, aku sama Yoga coba nyari ke daerah Demangan agak ujung dan akhirnya ketemu juga sebuah butik aku lupa namanya apa wkwkw tapi dari tampilan luar nya aja udah lucu banget.

Akhirnya aku sama Yoga masuk kesana dan aku yakin deh bagi cewek-cewek ini pasti bakal jadi surga mereka. Sama kayak aku kalo ke toko yang semua nya berhubungan dengan bola. Karena terlalu banyak nya pilihan disini, aku sampe bingung banget. Cuman mondar-mandir kesana kemari. Yoga udah nunjukin beberapa yang menurut dia lucu tapi bagi ku masih kurang. Satu yang aku pegang, aku harus nyari baju warna merah karena aku tau Lala suka warna merah.

"Coba deh kamu tanya mbak nya yang jaga. Baju warna merah yang cocok buat dia yang mana." Yoga mencoba menjawab kebingunganku. "Aku bilang gitu yang cocok buat Marion Idol?" Aku mengerutkan kening. "Gak ah malu." Jawabku kemudian. "Udah gak papa, kasih liat aja fotonya." "Coba aku liat instagramnya." Lanjut Yoga yang aku respon dengan mengeluarkan telepon ku dan mengetik @lalamarionmj di kolom search Instagram.

"Coba deh kamu tunjukkin ke mbak yang jaga foto ini, trus kamu minta pendapat baju yang mana yang cocok." Yoga memperlihatkan ku sebuah foto Lala dengan dress berwarna merah. "Yaudah deh." Kemudian aku mendatangi mbak nya dan bertanya seperti yang diusulkan Yoga. Dari situ, aku dan mbak-mbak penjaga terlibat dialog dengan jenis baju yang disukai objek di foto. Ya aku gatau, ketemu aja belum, kenal aja enggak wkwkw. Tapi dari foto itu mbak nya dan aku sama-sama menyimpulkan dia suka pakai potongan semacam dress gitu. Akhirnya aku diantar ke deretan baju-baju dress dan mbak nya menawarkan dua baju. Setelah cukup lama menimbang-nimbang akhirnya aku memutuskan untuk mengambil salah satu diantaranya. Soalnya kalo ngambil dua-dua nya tekor juga aing.

Aku gak bisa mendeskripsikan baju nya kayak apa, yang jelas menurutku sih oke. "Semoga aja Lala juga suka, deh."

Malam nya aku pulang dengan perasaan lega. Aku berangkat ke Jakarta masih lusa. Besok aku pake buat bungkus baju ini biar proper sampe tiba-tiba ada pesan di Line dari Sita, salah satu anggota group temen bermain SMA ku yang aku ceritain tadi. "Ren aku punya ide kado buat Lala." "Apa sit?" Balasku semangat. "Kamu beliin Atlas trus kamu tempelin sticky note tulisannya "Semoga suara mu bisa didenger keseluruh dunia, ya!"" Bagi sebagian orang mungkin ini ide yang aneh tapi bagiku, ini lucu banget sumpah wkwkw "Gilak lucu banget idemu wkwkw oke makasih banyak ya sit!" dan setelah membalas pesan dari Sita itu aku sibuk memikirkan perkembangan ide seperti apa dari ide dasar nya Sita tadi. Akhirnya aku menemukan, aku bakal nempelin kertas putih di setiap halaman Atlas yang menampakkan gambar yang ada hubungannya sama Lala, juga gambar peta dunia. Kertas putih itu bakal aku tulisin sesuatu.

Pagi hari tiba. Aku semangat banget hari ini. Selain karena ini H-1 aku ke Jakarta, hari ini aku bakal cari dan bikin kado tambahan buat Lala. Dimulai dengan ke toko buku cari atlas, trus ke Hartono Mall cari kotak kado, potong rambut biar kalo di Jakarta ketemu Lala aku bisa keren an dikit lah wkwkw dan terakhir membuat kado itu, di rumah.

Waktu aku di toko buku, aku sadar ternyata atlas kalo di tempelin kertas putih bakal susah gitu. Akhirnya aku mikir ide lain. Oke, aku bakal beli atlas dan buku tulis agak gede gitu. Tenang, buku tulisnya bukan gambar power rangers atau tokoh Frozen, kok. Nah nanti gambar-gambar peta di Atlas yang aku mau bakal aku gunting dan tempel di buku nya. Waktu aku udah nemu dua barang nya dan mau bayar ke kasir, aku inget kalo aku gapernah punya bolpen. Kalo kuliah gapernah nyatet, kalo nyatet pun pinjem temen wkwkw akhirnya aku beli sebuah bolpen berwarna biru. Bolpen yang kelak menjadi bolpen kesayanganku selama berbulan-bulan tapi sayang seminggu setelah Lala tereliminasi, bolpen nya ilang. Sedih banget.

Singkat cerita, aku udah ada di Hartono Mall buat cari kotak kado nya. Oiya, sampe saat ini aku kalo ke Hartono Mall pasti langsung inget aku siang itu. Gatau ya, karena momen itu terlalu berkesan aja mungkin. "Mbak, aku mau cari kotak kado yang muat buat dua kado ini." Kemudian aku menunjukkan buku dan baju tersebut. "Mari mas saya tunjukkan." Disana ada kotak berwarna merah dan hijau. Karena aku dan Lala suka warna merah, aku tentu saja pilih warna merah. Sayang, kotak nya kekecilan. Yasudah, akhirnya aku beli kotak warna hijau saja kemudian pulang.

Dengan kemampuan menggunting, ngelem ((ngelem)), dan menulisku yang lebih parah dari anak kelas 3 SD, bisa menyelesaikan buku ini adalah sebuah prestasi. Ya meskipun gak ada rapi-rapi nya sama sekali wkwkw Jadi di buku itu aku tempelin peta NTT, Jakarta, Indonesia, Asia, Amerika Utara, Eropa, Australia, Afrika, dan bendera-bendera di dunia.

Di buku itu aku bikin cerita dari Lala lahir, lalu 17 tahun kemudian ikut Idol, viral, menjadi trending topic, bisa melewati babak specta (aku gak tulis dia sampe berapa besar, atau dia juara atau enggak), rekaman di Indonesia dan beberapa tahun kemudian ada produser luar yang tertarik buat bikinin album buat Lala. Tapi sebelumnya Lala ngeluarin single sama Camilla Cabello yang memuncaki chart tangga lagu di Asia. Sayangnya dalam proses pengerjaan album internasional tersebut Lala diterpa gosip yang parah dan banyak orang yang akhirnya berubah dari fans jadi haters. Lala terpuruk tapi kemudian akhirnya dia bisa bangkit dan menyelesaikan album tersebut. Di piala dunia 2022 Lala yang mengisi theme song nya sampe akhirnya suara nya bisa benar-benar didengar di seluruh dunia. Pegel nulisnya. Tulis tangan wkwkw Semoga dengan tulisan yang berantakan in Lala bisa baca. Oiya aku sengaja gak nulis sosial media dan nama panggilanku disana. Sebagai penutup buku itu aku kasih sebuah puisi dan aku tulis "- Muhammad R. Fandelika- Your biggest fan and your future friend." Kenapa? Soalnya aku tulus dan iklas ngelakuinnya tanpa perlu dia notice aku siapa ig ku apa blablabla karena yang penting itu esensi nya, dukunganku buat dia. Akhirnya, kado udah siap. Tinggal tidur, bangun, dan berangkat. Eh packing dulu, lupa.


Sebelum tidur, aku ngecek instagram dan ngerasa yang aneh, tumben Lala gak update story, biasanya setiap hari dia pasti update story. Pas aku buka profile instagram nya, ternyata di kolom comment pada menghujat gara-gara penampilannya pas bawain Havana. Pada bilang katanya gapunya attitude. Jadilah aku pake second account instagram ku balesin satu-satu hate comment. Gatau kenapa aku panas banget rasanya wkwkw jam setengah 2 waktu udah sepi kolom comment nya aku baru tidur. Gila ya, baru aku selesai nulis cerita yang konflik nya Lala di hate, kenapa malam itu Lala di hate beneran di instagram :') dan itu rame banget loh. Aku takut Lala jadi down. Aku jadi gak sabar ngasih kado ini.

"Emang kamu kenal sama dia?" "Enggak." "Lah trus gimana kamu kasih kado nya?" Aku dan temanku sedang saling bertukar pesan ketika aku sedang di kereta perjalanan ke Jakarta. Deg-deg an banget rasanya. "Ya aku bakal ke studio RCTI, tanya receptionist nya atau titipin aja ke dia." "Trus kapan rencananya kamu masih ngasih ke studio RCTI?" "Besok deh kayaknya. Nanti sampe jakarta udah sore, mau kerumah kakek dulu di Bekasi."

Singkat cerita aku sudah sampai di hotel dari Bekasi, rumah kakek. Ketika sudah memposisikan diri untuk tidur dengan enak, tiba-tiba group chat temen-temen kuliah ku ramai dan aku di mention disana. "Lagi viral video porno katanya kontestan Indonesian Idol." "@Reno Fandelika waduh gimana ini Ren." "Sabar ya Ren." Aku deg-deg an banget buka group chat itu dan aku buka sebuah post di sebuah official account, di post itu dia memakai nama Marion Jola sebagai keterangan video yang ia unggah. Aku menonton video nya dengan panik. "Enggak, itu bukan dia." Balasku di group setelah menonton video itu yang disambut ungkapan-ungkapan ketidakpercayaan teman-teman atas opiniku. Buru-buru aku buka instagram nya Lala dan disana sudah sangat ramai orang-orang menghujat Lala. Ramai sekali. Bahkan banyak yang menggunakan kata-kata tidak sopan. Disitu aku sedih banget sumpah. Duh aku kasian banget sama Lala. PADAHAL ITU BELUM PASTI DIA. Tapi netijen sudah pada jahat menjudge. Aku juga mikir, kok bisa ya konflik di cerita yang aku buat di buku itu sama persis dengan yang kejadian di dunia nyata. Sumpah, kok bisa gitu. Malam itu aku susah tidur lagi dan cuman bisa berharap Lala kuat disana.


Kejadian tadi malam bikin aku tambah semangat buat ngasih kado ini ke Lala. Aku pengen dia kuat karena kado ini. Rencana nya aku mau naik transjakarta ke studio RCTI di daerah kebon jeruk habis itu jalan-jalan gak jelas keliling Jakarta. Tapi tiba-tiba temenku, Hafif, membalas update an instagram story ku yang memperlihatkan aku sedang di Jakarta. Lalu dia bilang mau nemenin aku sekalian main gitu. Yasudah aku setuju. Jadilah di hari Sabtu pagi tanggal 13 Januari itu aku dan Hafif berjalan enggak jalan beneran, tapi jalan pakai mobil nya Hafif ke Studio RCTI.

"Selamat siang pak, mau kemana?" Seorang satpam memberhentikan mobil nya Hafif ketika kita sudah berhasil menemukan letak studio tv itu. "Mau ke dalam pak, mau ngasih kado." Jawabku ragu-ragu. "Sudah membuat janji, pak?" Tanya nya lagi. "Belum, pak. Ini mau ke receptionistnya aja kalau bisa, titip aja pak ini.. hmmm kado." "Waduh gak bisa mas, di dalam juga gak ada orang, ini hari Sabtu. Kalau mau kesini coba bikin janji dulu." Janji gimana pak astaga, namanya juga kado dari seorang fans :') "Silahkan putar balik di depan kemudian keluar ya, mas.". Hafif kebingungan, apalagi aku yang akhirnya pasrah aja keluar dari studio itu dengan tangan kosong. Setelahnya, Hafif sibuk mikir kita mau nongkie dimana. Aku? Sibuk mikir gimana caranya kado ini bisa sampe ke Lala.

Kedua pikiran kita itu akhirnya terjawab. Aku dan Hafif bakal ke PIM, nongkie di area 51, foodcourt nya PIM dan nanti disusul Sandi, temen ku satu lagi. Sementara untuk masalah Lala? Awalnya aku mau minta tolong temenku yang kenal sama kontestan lain gitu, tapi kata dia gak etis kalo minta tolong lewat kontestan lain tapi si kontestan itu gak dikasih apa-apa. Lalu aku boom dm ig nya Lala, gak ada harapan. Aku dm mbak-mbak yang belain Lala di kolom comment yang katanya dia itu pemain musik nya Indo Idol, tapi dia gamau jawab, kayak gak percaya sama aku. Trus Simbah, yang suka nobar indo idol sama aku, ngusulin buat nge dm akun fanbase nya Lala. Benar juga, aku kirim dm ke akun itu. Sejam dua jam, enggak dibales. Akhirnya aku punya ide lain. Aku dm instagram Indonesian Idol. Kemungkinan buat di liat sangat kecil sih, tapi gak ada salahnya kan mencoba?

Aku kirim pesan pertama jam 1 siang dan setiap satu jam sekali aku cek, jika masih belum dibalas aku kirim ulang pesan tersebut. Sampai akhirnya jam 4 sore setelah sekian kali aku kirim ulang, mimin Indonesian Idol membalas! Sumpah aku deg-deg an seneng banget. "Halo reno, Boleh tau hadiahnya utk siapa, Dan bentuknya apa? Thanks," "Alhamdulillah dibales hahah. Buat Lala min, kado isi nya baju dan buku." Kemudian aku mengirimkan gambar kado nya. "Mohon ditunggu dulu ya info dari kami." Lalu aku menunggu dengan sangat gelisah. Setelah itu, aku nonton insidious dan sepanjang nonton aku deg-deg an banget. Sumpah ini deg-deg an paling gak enak. Kenapa? Pertama karena nonton film horror. Kedua karena habis minum kopi. Ketiga, nunggu kabar dari admin Indonesian Idol.

Setelah aku nonton, masih belum ada kabar dan aku masih sabar menunggu, sampai akhirnya pesan yang aku tunggu-tunggu datang juga. Katanya kado nya dikirim saja langsung ke kantor fremantle media. Nanti diserahkan ke security disana dan dari tim Indo Idol bakal ambil. SUMPAH AKU SENENG!

"Min, kado nya sudah aku serahkan ya ke security, namanya Pak Chaerul. Terimakasih banyak min, kalau sudah sampai ke Lala aku dikabari ya, min. Sekali lagi, terimakasih." "Oke Reno, terimakasih."

Setelah itu, aku menunggu dengan gelisah. Sabtu malam gak ada kabar. Minggu pagi, masih sama. Siang juga, sore nya aku nonton Timnas di GBK dan sepanjang aku kehujanan waktu antri masuk, saat nunggu laga mulai, waktu half time, aku gak tenang. Kepikiran Lala yang masih di bully dan kado ku. Kok adminnya gak Indo Idol gak ngasih tau aku. Kok Lala juga gak update apapun tentang kado nya. Jangan-jangan dia nganggep itu gak penting, kan sedih ya. Sampe akhirnya aku pasrah.

Sepulangnya dari nonton timnas aku sibuk ngeringin celana panjang dan sepatu ku pake hairdryer di hotel.Soalnya aku gak bawa celana panjang dan sepatu cadangan huahaha parah emang. Mau aku laundry in celananya, tapi waktu nya gak sampe, karena besok pagi-pagi aku udah harus ke Bandung. Karena terlalu sibuk mengeringkan celana panjang dan sepatu, aku sampe telat notice kalau sahabatnya Lala si Rezo, @rezmez, ngelike foto-fotoku di instagram. Sejak saat itu aku menggigil. Gatau karena habis kehujanan atau deg-deg an, pokoknya aku menggigil. Habis itu aku cek dm dan benar, ada satu request pesan dari Rezo. Dia udah kirim pesan dari jam 21:29 sedangkan aku baru buka jam 23:43. Astaga parah banget, semoga doi belum tidur.

Edan sih. Beberapa menit dari kejadian itu, aku iseng cek notif instagram yang biasanya isinya kalo ada orang baru ngefollow atau ngelike foto ku. Dan tebak apa? Ini yang aku temukan.

CUUUUUYYYYYYY :')
Kejutan belum selesai malam itu.

Kejutan apa lagi ini yang mungkin terjadi :'0

Aku masih ngerasa itu bukan Lala asli, sampe aku denger suaranya.
"Halo Future Friend!" Sapaan yang gak akan aku lupakan, gak akan dan waktu denger sapaan itu, aku menggigil banget sumpah huahahaha mau ngomong aja sulit, malah ngeluarin suara-suara aneh. Bukan 5-10 menit kita telponan, tapi satu jam lebih! Kalo gak percaya coba cek capture an dm nya Lala, dibagian atas ada durasi telpon nya. Lalu satu jam ngomongin apa aja? Di awal-awal dia terimakasih atas kado nya, tentu saja. Katanya dia nangis baca buku nya. Dia juga suka sama baju nya. Dia bilang, sempet kepikiran keluar dari Indo Idol dan bahkan sempet kepikiran mengakhiri hidupnya, tapi dia cuman bercanda sih yang terakhir wkwkw dan gara-gara kado itu dia jadi kayak punya kekuatan baru untuk terus maju. Dia juga bilang, dia suka cerita yang aku bikin, dan puisiku. Yang ini akhirnya bikin aku semangat lagi nulis di blog, mulai nulis novel, dan mulai bikin video-video di instagram

Aku gak tau gimana menjelaskan momen itu, 15 Januari 2018 dini hari, hanya tiga hari sebelum ulang tahunku. Kado terindah apa lagi yang bisa aku dapatkan?

"Telponan sama siapa, Ren?" Tanya Hafif dan Bang Satrio, temenku satu lagi, ketika aku selesai nelpon. Waktu awal aku nelpon dan kejadian-kejadian sebelumnya, mereka emang lagi keluar kamar hotel mau cari makan gitu katanya. Untung waktu diajak aku milih kerja mengeringkan celana. Kalo enggak kan telponnya ditengah keramaian ya, kurang asik. Aku bercerita, menjawab pertanyaan itu. Jadilah, tiga laki-laki dewasa sumringah kesenangan di kamar hotel, malam-malam. Apalagi yang namanya Reno, sepanjang malam gak bisa berhenti senyum dia.

Beberapa minggu kemudian, baju dari aku benar-benar dipake.

Di tv, awalnya baju ini cuman muncul sebentar di vt yang ceritanya doi lagi telponan sama kedua adiknya. Namun mulai spekta top 9 kalau gak salah, sampai doi teriliminasi, baju ini ada di video yang ada tulisan "Marion" nya sebelum doi nyanyi. Aku gak tau itu namanya apa wkwkw bangga? Jelas. Seneng banget.

Kejadian Januari tahun ini benar-benar merubahku. Tentang semua mimpiku? Aku sempat ragu. "Jangan ragukan kekuatan sebuah mimpi karna suatu saat mimpimu akan menjadi kenyataan." Dari sd quote ini yang aku pegang dan kemarin sempat luntur karena usaha-usahaku untuk menggapai nya gapernah bisa nyata. Namun setelah kejadian ini, aku jadi percaya lagi dengan kekuatan mimpi yang aku punyai. Kalo aku usaha keras, kayak usahaku buat ngasih kado ke Lala, pasti hal-hal baik akan datang. Kalau pada akhirnya semua mimpiku nyata, aku akan sangat berterimakasih pada momen ini. Pada semua pihak yang membantuku memberi kado ini, dan terankhir, pada seorang Marion Jola, tentunya.

Oiya, sampai sekarang aku belum ketemu Lala secara langsung. Tapi gak papa, aku selalu yakin akan ada kesempatan-kesempatan di depan sana untuk kembali menemukan Lala. Atau bisa saja ketika kita ketemu nanti, Lala sudah menjadi seorang penyanyi, yang well banget lagu-lagu dan albumnya. Sementara aku juga sudah menjadi aku yang aku inginkan.




Selasa, 27 Maret 2018

Hari Ini, 2016 dan Semua Nostalgia

Jogja pagi ini syahdu banget. Kesyahduan yang bikin aku, cowok paling melankolis diantara beberapa kelompok pertemanan yang aku punya, mengingat-ingat semua hal yang pernah aku lakuin. Sebagai tambahan, aku menikmati kesyahduan pagi ini ditemani sebuah bahan bacaan, cerita bersambung di salah satu forum berbagi cerita di Internet. Aku membaca karya sang penulis yang sudah aku baca cerita-cerita sebelumnya sejak tahun 2016. Otomatis, di momen ini, pikiranku langsung terbang gitu aja ke tahun 2016.

Setiap tahun pasti memiliki kesan tersendiri buat aku karena pasti ada cerita yang tidak semudah itu akan aku lupakan, cerita yang akan menghiasi hari-hari ku nanti kedepan dan tahun 2016 ini aku sebut sebagai tahun yang membuka aku ke dunia luar. Tahun yang paling signifikan merubah ku, cara bergaul ku dan bagaimana aku memandang dunia. Tapi di post kali ini, aku akan menceritakan tahun 2016 melalui sudut melankolis, melalui narasi-narasi pengenangan.

Perubahan itu dimulai pada bulan Maret. Iya, sudah genap dua tahun rupanya. Saat itu, seperti yang udah aku ceritain di post-post blog ku sebelumnya, aku putus dari Dian dan itu membuat prioritasku dan bagaimana aku menghabiskan waktu menjadi bergeser. Sebelumnya, waktu ku untuk pacaran dengan Dian, juga mengurus beberapa event di kampus. Tapi setelah putus, aku jadi lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman di kampus, fokus pada Forum Olahraga Fisipol dan kembali lagi menjadi kader aktif di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia.

Di mulai bulan Maret itu, aku merasa seolah hidup kembali dan aku merasa, dunia kuliah ku baru benar-benar dimulai. Hampir setiap hari aku barengan sama Daniel, Syihab, Yoga, Raka, Ajik, Putra, Apol, Nanda nongkrong bareng. Entah di kantin, sudut-sudut kampus lain, atau di kontrakannya Syihab dan Yoga. Menghabiskan malam dengan melakukan hal-hal yang remaja cowok lakukan sambil dengerin lagu-lagu band indie yang kebanyakan belum pernah aku denger lewat speaker yang dulu ada di kamar Syihab.

Bulan April dua tahun lalu gak kalah menyenangkannya, apalagi 12 April, ulang tahunnya Daniel. Sejak awal April aku rutin chat sama salah satu cewek cantik di SMA, sebut aja namanya Sheila. Kita sama-sama suka nonton film menye-menye, sama-sama suka nonton tvseries nya Net tv dan aku ngerasa kita nyambung. Di tanggal 12 April, aku dan dia pergi keluar untuk pertama kali nya. Kita makan di McD Jombor lalu ke rumahku, nonton film Magic Hour. Trus di tengah-tengah nya nonton Syihab sama Daniel ke rumah wkwkw mereka kira aku udah gak pergi sama Sheila. Akhirnya mereka cuman nongkrong gak jelas di teras rumah sambil ngerencanain mau main di sungai deket rumah tapi gajadi.

Dua belas April malam ini momen favoritku. Kita kumpul di rumah Nanda buat ngasih surprize ulang tahun nya Daniel. Jadi tadi habis dari rumahku, Daniel sama Syihab pergi lagi gak jelas kemana. Trus malem nya kita kerjasama sama Marda, pacarnya Daniel, jadi di deket rumah Nanda si Marda pura-pura nya motor nya mogok trus dia nelpon-nelpon Daniel buat dateng. Pas Daniel dateng, kita keroyok dia, kita iket di sebatang pohon trus kita lemparin dia berbagai macam hal. Mulai dari pipis yang di plastikin, tepung, telur, dan lain sebagainya. Man, that was funny and memorable as fuck. Habis itu Daniel lepas dari tali nya trus malem-malem kita kejar-kejaran gitu di sebuah daerah yang sepi banget, sampe hampir dimarahin satpam. Astaga seru banget.

Di bulan Maret-April 2016 itu orang tua ku juga sering ke luar kota dan mereka sering banget nginep rumahku. Oiya, setelah surprize ulang tahun Daniel itu, kita sepakat buat tidur di rumahku dan sampe rumahku kita gak langsung tidur tapi ada yang nge pes ada yang ngapain ada yang ngapain blablabla gitu, padahal besok nya UTS. Trus bener aja, uts nya setengah 8, jam 07.15 pada belum bangun, dan aku baru banget bangun. Trus buru-buru mandi dan bangunin mereka semua. Jam setengah 8 kurang dikit, si Syihab bukannya cepet-cepet siap-siap tapi malah ngerengek ngeluh kenapa ujian pagi huahaha. Akhirnya jam 8 lewat kita baru sampe kampus. Nice. Untung masih boleh masuk karena belum ada yang keluar ruangan ujian.

Mei 2016 tidak kalah menyenangkan. Aku, Syihab, Yoga, sama Daniel pergi ke Gresik dan Surabaya naik mobil sama Pak Garin. Lagi, itu perjalanan yang menyenangkan banget. Satu yang terfavorit. Ya pada dasarnya setiap perjalanan itu pasti ada tempat tersendiri di hati ku.

Banyak banget sebenernya momen tahun 2016, yang membuka hidup ku, merubah diriku yang rasanya terlalu banyak untuk aku sebutin. Aku berubah dari sosok yang selalu insecure, tidak percaya diri, tidak tahu dunia luas, menjadi sosok yang bodo amat sama pendapat orang, tidak sebaperan dulu, dan jadi tahu lebih banyak tentang hidup.

Sayangnya 2016 ditutup oleh dua buah patah hati besar. Pertama, kita kalah dalam mencalonkan diri sebagai presiden Korps Mahasiswa Politik Pemerintahan. Sebenernya mengundurkan diri, tapi yang tercatat kan kekalahannya. Trus yang kedua, Timnas Indonesia kalah di final piala AFF 2016. Sakit.

Yang membuat aku berpikir, damn! itu adalah, semua itu udah terjadi 2 tahun yang lalu. Bos, dua tahun itu bukan waktu yang sebentar. Kalo dipikir-pikir ya, waktu aku kenal sama temen-temen kuliah bulan Maret-April 2016 dari sejak kita kenal di bulan Agustus 2015 itu lebih singkat dibanding sekarang, yang kita udah kenal hampir 3 tahun. Tapi dari tahun 2016 sampai sekarang, aku ngerasa itu berlalu cepet banget dan jangka waktu mulai kenal sampe Maret-April 2016 kayak lebih lama dari sekarang.

Itu berarti juga selama dua tahun aku sukses tidak jadi apa-apa. Kondisiku dua tahun lalu sama sekarang masih sama banget. Tidak ada pendapatan rutin, tidak ada kerjaan, dan tidak terlalu produktif. Padahal, aku selalu membayangkan hidupku setahun, dua tahun lagi itu bisa menjadi sebuah perubahan besar. Mulai menggapai apa yang aku cita-cita kan. Dua tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk tidak menggapai itu.

Bandingin sama Gabriel Jesus, pemain sepakbola asal Brazil. Tahun 2014 waktu negara nya jadi tuan rumah Piala Dunia, dia masih bantu-bantuin ngecat jalanan. Trus tahun 2015 dia dapet kontrak profesional pertamanya bareng Palmeiras. Tahun 2017 dia gabung ke raksasa kaya dari Inggris, Manchester City dan semalam, dia mencetak gol tunggah buat menangin Brazil atas Jerman yang 4 tahun lalu ngalahin Brazil 7-1 dan kala itu, aku yakin Gabriel Jesus masih nobody yang liat di televisi bagaimana negara nya di bantai dan dalam waktu 4 tahun ia bisa jadi penentu kemenangan negara nya atas lawan yang sama. Tidak hanya Gabjes, banyak sekali contoh bagaimana dunia begitu baik terhadapnya dan merubah hidupnya dalam waktu sekejap.

Beberapa hari yang lalu aku menulis, "Aku terlukai ambisi dan mati ditangan mimpi ku sendiri." Beberapa paragraf terakhir cukup menjelaskan arti dari tulisanku itu. Karna sudah satu tahun ini aku setiap hari diliputi mimpi dan ambisi yang masih sulit aku gapai karena beberapa faktor dan akhirnya membuat ku seperti dikejar-kejar sesuatu yang menakutkan setiap hari nya.

Yang jelas, melalui tulisan yang tidak terlalu berfaedah ini, tujuanku dua hal. Pertama mengenang sekaligus mengusir perasaan nostalgia itu di dalam diriku melalui tulisan, yang kedua, tulisan ini juga sebuah self reminder kalau aku sudah melewati 2 tahun dengan mimpi yang belum terwujud. Jangan sampai, Maret atau April tahun depan kondisiku masih sama seperti ini. Jangan, jangan sampai.

Sabtu, 03 Maret 2018

Kepada Kamu yang Sudah Memilih Untuk Tidak Bersamaku

Aku sudah siap jika pada akhirnya aku dan kamu tidak menjadi kita. Aku sudah siap jika pada akhirnya, semua tentang kamu dan semua tentang ku hanya sekedar masa lalu. Semua yang sudah pernah kita usahakan, sedari dulu sampai langkahku terhentikan, aku relakan berlalu dan pergi bersama angan. Aku akan menutup buku ini, semua mimpi yang aku tulis disini aku akhiri.

Tapi satu hal yang mengganggu setiap tidurku adalah justru hidupmu setelah aku. Bagaimana jika pada akhirnya, orang yang kamu pilih untuk menemani hari-hari kedepan tidak bisa menjaga mu sepenuhnya? Bagaimana jika kemudian dia lebih sering menyakiti indah mu, dan memaksa tangis keluar dari mata yang selalu menenangkan ku itu? Aku takut perlahan senyum mu hilang bersama nya. Senyum yang aku jaga sepenuh hati agar tetap menghiasi hari-hari. Tidak akan aku ampuni satu pun manusia yang menghapus itu, menghapus bahagia mu.

Meskipun harapan kita sudah pupus, tapi aku masih ingin selalu menjaga hati yang teduh, hati yang tidak pernah berhasil mengecewakanku, hati yang aku jamin, tidak akan pernah aku patahkan seumur hidup. Kepada laki-laki yang kelak mendampingimu, yang kelak mengisimu, kau harus tau betapa suci nya wanita yang membangkitkan mimpi itu. Kau harus tau betapa behagia aku ketika wanita terindah itu tersenyum, bukan menangis.

Kepadamu, yang selalu berhasil membuatku menjadi seseorang yang lebih baik, aku harap kamu bisa menemukan seseorang yang menjaga cinta, tidak hanya sekedar ego belaka. Cinta yang sudah kita bangun dulu, jangan kau pasrahkan kepada laki-laki manapun yang berniat mematahkan hatimu. Sungguh, puluhan malam sendu ku tanpamu, tak satupun malam tanpaku memikirkanmu. Sekali lagi, biarkan aku tenang dengan hidupku, pilihlah laki-laki yang tak menyakitimu. Jika sampai hati yang mulia itu terluka, katakan padaku, aku pastikan, ia akan merasakan sakitnya, puluhan kali lebih sakit daripada yang sudah ia lakukan kepadamu.

Kepada kamu, yang sudah memilih untuk tidak bersamaku, aku melepaskanmu sepenuhnya. tapi mengertilah, aku akan selalu ada, kamu tahu kan harus mencariku dimana? Datanglah, jika pada akhirnya petualanganmu tanpa diriku itu adalah sebuah luka.

Jumat, 23 Februari 2018

The Red : Kejayaan Sebelum Masa Remaja dan Mimpi Untuk Menaklukkan Indonesia

Kemarin siang setelah membayar KKN, aku yang sangat jomblo ini merasa cukup gabut. Kemudian teringat bahwa kemarin adalah tanggal 22 Februari. Arti nya apa? Valentine sudah terlewat 8 hari yang lalu? Bukan. Pacarku ulang tahun? Bukan, kan aku udah bilang diatas kalo jomblo. Aku bakal dapet jodoh? Itu kehendak Tuhan YME. Tanggal 22 Februari itu artinya.... Film nya Bayu Skak yang berjudul "Yowis Ben" keluar! Yasudah, daripada gabut, aku memutuskan untuk menuju ke salah satu mall yang memiliki bioskop, dan aku menonton film tersebut. Seperti biasa, sendirian.

Film itu singkat nya bercerita tentang perjuangan Bayu dan teman-teman satu band nya untuk membesarkan band tersebut. Lalu, aku yang sangat mudah terbawa suasana nostalgia langsung mengingat aku waktu kelas lima sd. Apa yang aku ingat? Gumpalan lemak dalam tubuhku. Gak deng.

Waktu kelas lima sekolah dasar, aku masuk di kelas apa ya aku lupa. Pokoknya dikelas itu aku menemukan teman-teman dekat sebagai berikut : Naufal (Nama panggungnya saat itu "Aleey") alay memang, tapi ya namanya juga anak kelas 5 SD, lalu ada Fadhil (dia paling muda diantara kita, waktu itu paling cengeng. Pernah lagi presentasi di kelas gitu dia malah nangis, cerita kalo sering kita bully hehehehe), Amar (anak berbadan paling tinggi dengan rambut yang juga menjulang tinggi), terakhir ada Dale (Berbadan paling atletis, dan paling banyak disukain cewek).

Aku lupa bagaimana kita bisa saling kenal tapi siang itu di waktu istirahat tiba, diantara anak-anak sd yang sedang bertukar kertas diary, atau main hot wheel, kita nyanyi-nyanyi gak jelas gitu di kelas. Bahkan Dale sampe naik keatas meja gitu sambil membawa sapu yang pura-pura nya itu gitar. Amar kemudian memukul-mukul perutku, pura-pura nya drum. Kemudian setelah itu kami berlima sharing, alat musik apa yang kami kuasai. Aleey dan Fadhil berkata yakin mereka bisa bermain gitar. Amar? Doi bisa main drum. Dale? Suara nya bagus. Lalu aku?

"Aku lagi les gitar nih." Kataku.
"Tapi udah jago belum?" Tanya salah satu dari mereka
"Hmm... aku lagi les kok." Kataku mencoba meyakinkan agar aku diterima masuk band yang seperti nya akan berdiri tersebut. Mereka masih memandangiku menuntut jawaban yang lebih jelas.
"Aku bisa nyanyi kok! Suara ku bisa aku buat-buat biar bagus." Padahal kalo sekarang aku nyanyi, dibayar 1 juta pun penonton bayaran gaada yang mau nonton.

Tapi pada akhirnya, kelima anak kecil itu dengan semangat berlarian kesana kemari dan tertawa menuruni tangga lalu menuju studio di sekolah kami. Setelah memastikan tidak ada yang memakai studio tersebut, kami menyewa nya selama satu jam. Setelah masuk studio kami bingung.

"Main lagu apa nih?" Tanya Aleey. Padahal semua sudah memegang alat masing-masing.
"Oiya." Jawab kami semua bersamaan. Saat itu, mencari chord lagu tidak segampang sekarang yang tinggal mencari di internet. Karena hape kami semua rata-rata masih nokia, apalagi kami belum familiar dengan yang namanya google dan internet. Kalau kita mau tau chord lagu, kita harus beli buku yang berisi kumpulan lirik lagu beserta chord nya.
"Eh aku punya buku kunci nih." Kata ku akhirnya.
"Dimana?"
"Di rumah, sih."
"Yeeeee." Akhirnya kami berlima bengong, dan bermain asal-asalan dulu, memakai lagu yang diingat oleh salah satu dari kami.
"Besok aku bawa buku kunci nya deh." Kataku ketika kami keluar dari studio.

Keesokan hari nya, seperti yang aku janjikan, buku tersebut aku bawa. Kami menyewa studio sekolah kembali.

"Mainin lagu apa, nih?" Kata Amar dibalik drum nya.
"Peterpan aja, Semua Tentang Kita. Kunci nya gampang kan ini?" Kataku sambil bertanya ke Aleey dan Fadhil.
"Lumayan, coba deh." Jawab Fadhil.

Akhirnya kami memainkan lagu Peterpan yang berjudul Semua Tentang Kita. Aku senang sekali karena tahun-tahun sebelumnya aku hanya bisa melihat kakak-kakak kelas ku manggung, tapi sekarang, aku bisa berada di studio ini, dengan band ku sendiri.

"Kita kan udah ngeband nih, tapi masak gaada nama nya?" Kata Dale.
"Yuk cari nama yuk." Jawabku, "Ada usul?" Kemudian hening.
"Kalian pada suka warna apa?" Tanyaku kemudian mengakhiri keheningan.
"Merah." Jawab keempat temanku. Aku kaget, karena aku juga suka warna merah.
"Gimana kalo namanya The Red aja, keren tuh kesannya berani gitu." Usul ku. Kemudian masing-masing merespon.
"Oiya setuju." "Wah iya keren kayak The Rain." "Emang Red arti nya merah ya?",
"Eh gimana kalo namanya d'bandit aja?" Dale memberi usul. "Keren gitu kesannya. Lebih berani dari The Red. Nanti gaada yang berani sama kita kalau pake nama itu." Kami berpikir sebentar. "Nanti lagu nya gini. "Permisi-permisi, ada orang keren mau lewat, band d'bandit."".
"Oiya boleh deh." Jadilah pada hari itu, Kamis, 30 Agustus 2007 sebuah band baru terbentuk dengan nama D'Bandit. Untung saat itu belum ada band d'bagindas. Kalo udah kan, d'bandit kesannya malah melayu gitu, enggak jadi keliatan gahar.

Saat pulang, aku pamer ke mama papa.
"Ma, Pa, aku punya band baru loh,"
"Oiya? Namanya apa?"
"D'Bandit." Jawabku yakin. Papa kaget. Mama bingung
"Papa gak setuju." Loh kenapa pa? Aku kira karena akan mengganggu sekolahku gitu kan, tapi ternyata bukan.
"Bandit itu gabagus. Orang-orang jahat. Ganti nama." Kata beliau kemudian.
"Loh pa, kan cuman nama." "Gak, ganti nama, gabaik." "Yaudah, aku sms temen-temen dulu," Kemudian aku mengambil hp dan mengetik.
"Eh Papa ku gak ngebolehin nih kita pake nama D'Bandit. Kata nya arti nya jelek, kita ganti jadi The Red aja ya?" Gila, keliatan bocah nya banget ya. Kemudian aku pilih penerima dan aku kirim ke keempat temenku yang lain. Satu persatu membalas, intinya yaudah deh gapapa.

Jadilah pada hari itu, Kamis, 30 Agustus 2007 sebuah band baru dengan nama "The Red" terbentuk.

Sejak hari itu, kami sering sekali latian di studio, bahkan singkat cerita, kita sudah menciptakan 3 lagu sendiri. Chord nya pun tidak asal karena sangat enak untuk dimainkan lagu nya. Apalagi, kami juga berkonsultasi dengan guru band di sekolah kami, dan guru les gitar ku. Single pertama kita berjudul "Jika Ku Pergi" single kedua berjudul "Sebuah Awal" single ketiga berjudul "Ibu". Gila ya kalo dipikir-pikir. Anak kelas 5 sd lho, sudah bisa menciptakan lagu sendiri. Bukan cuman satu, tapi tiga. Keren banget! Berbicara band, tidak lengkap rasa nya kalau belum manggung. Akhirnya, panggung pertama kami tercipta. Kali itu pada acara pesantren kilat sekolahan. Disana setiap kelas menampilkan pertunjukkan. Kelas kami menampilkan drama religi yang kemudian diakhiri dengan penampilan The Red membawakan lagu "SurgaMu" dari ungu. Panggung pertama yang keren, kan?

Bersamaan dengan itu, nama band kami mulai dikenal teman-teman di SD. Bahkan, Amar membuatkan design lambang band kami, yang kemudian kami implikasikan kedalam bentuk baju. Design baju nya kami terinspirasi dari baju ajax amsterdam. Merah di sisi kanan dan kiri, putih di tengah. Kami membuat nya dan dibagikan gratis keteman-teman kelas kami. Gila, kaya juga ya.

Sayangnya, diakhir Desember, kami harus kehilangan salah satu personil kami. Dale, harus pindah karena ikut ayahnya bertugas di Makassar. Sedih, tapi life must go on. Formasi di band berubah. Aleey sekarang merangkap menjadi gitaris dan vocalis sementara aku masih menjadi vocalis (yang gak tau diri).

Setelah kepergian Dale, rejeki itu justru datang. Penjaga studio saat itu yang sayangnya aku lupa namanya, bertanya pada kami di suatu siang, seselesainya kami latihan.

"Kalian udah ada lagu yang bisa dimainin?" tanya nya.
"Udah dong, pak." Jawab ku sembari memperlihatkan buku kami yang berisi lagu-lagu kami. Aku masih ingat cover buku tersebut. Gambar nya berbentuk kartun, ada seorang anak sedang tersenyum lebar melihatkan deretan gigi putiih nya. Dijidatnya aku tulis "Buku Lagu The Red."
"Yaudah, aku punya kesempatan manggung buat kalian." Setelah itu kami ngobrol dan sore nya aku dihubungi oleh seorang mas-mas. Beliau mengatakan kami akan mengisi pameran salah satu brand motor, dua kali. Yang pertama di galeria mall dan yang kedua di taman pintar. Astaga, panggung kedua dan ketiga kami dan langsung diluar sekolah, ditempat keramaian seperti ini? Aku nyanyi, lagi. Duh kalo aku bayangin sekarang jadi malu sendiri.

Aku masih ingat dua kali kami manggung di Galeria dan Taman Pintar, lagu yang kami bawakan adalah "Rasa Ini" dari The Titans, "Tak Bisakah" dari Peterpan, dan "Jika Ku Pergi" ciptaan kami. Bahkan saat manggung di taman pintar, kedua mc nya adalah mc yang sedang naik daun saat itu di Jogja yang sayangnya sekarang aku juga lupa namanya. Salah satu nya Aldo Iwak Kebo, kalo tidak salah. Dari hasil dua kali manggung tersebut, kami mendapatkan bayaran sebesar 200 ribu. Lumayan, sangat lumayan.

Semakin lama, les gitar ku semakin lancar, namun aku tidak lagi fokus ke gitar, karena teman-teman di band butuh pengatur ritme dari seorang bassiss. Akhir nya aku fokus belajar bass. Satu minggu kemudian, ketika kami latihan, aku sudah mencoba memegang alat baru : Bass. Kemudian entah dapat wangsit dari mana, aku memutuskan untuk berhenti nyanyi karena terbukti, mas-mas tadi tidak menghubungi kami lagi, ya mungkin karena aku fals banget. The Red berubah formasi lagu. Amar masih sebagai drummer, Fadhil masih sebagai gitaris, aku berubah menjadi bassiss, dan Aleey, menjadi lead vocal.

"Kalo gini-gini aja, kita gak punya tujuan yang jelas." Aku membuka obrolan ketika The Red sedang kongkow-kongkow di ayunan. Keren ya band anak SD, nongkrong nya di ayunan.
"Iya ya, kitakan juga udah punya lagu sendiri padahal." Jawab Aleey.
"Nah itu dia, coba diliat, di buku lagu kita udah ada 12 lagu. Pas." Iya, waktu itu kita udah nyiptain 12 lagu. Tapi ya itu, yang udah ada chord nya cuman 3, 9 lainnya cuman lirik doang.
"Trus gimana?" Tanya yang lain.
"Bikin demo album yuk, trus kita kirim ke label rekaman." Usulku. "Aku kemarin udah bilang ke tanteku, katanya dia mau bantu masukin demo kita."
"Wah boleh tuh boleh."
"butuh apa aja sih kalo mau rekaman?" tanyaku.
"Kaset kosong, sama tape sih buat ngerekam. Udah itu doang." Jawab Aleey.
"Hm gitu, kaset nya aku bisa beli deh nanti. Tape nya?"
"Coba pinjem sekolah aja, bisa kok, di perpus apa ya." Jawab Amar.
"Yaudah besok coba aku pinjemin tape nya, habis pramuka ya kita rekaman di studio."

Aku seharian membayangkan demo kami sukses, diterima Sony BMG, lalu kami berempat diundang ke Jakarta, berada di pesawat yang sama, lalu rekaman. Bahkan di hp ku aku udah menyiapkan ucapan-ucapan terimakasih, khas seperti testimoni para musisi ketika album nya keluar. Astaga, indah sekali.

Keesokan sore nya, kami berempat sudah berada di dalam studio. Kaset kosong sudah ada di dalam tape yang kami pinjam dari perpustakaan sekolah.

"Kita rekam tiga lagu ya, Jika Ku Pergi, Sebuah Awal, dan Ibu." Kata Aleey dibalik mic nya. Kemudian menyalakan rekaman.

Kurang lebih 20 menit kemudian, tiga lagu tersebut berhasil terekam dengan mantab nya. Kami berempat tidak bisa menutupi kebahagiaan kami. Bahkan tidak hanya direkam dalam bentuk kaset, tapi salah satu teman kami, Aldy, juga merekam video lewat hp ku.

Tapi disini lah bodoh nya kami. Ya masih anak kecil juga sih. Kami mengira kalau mau rekaman dengan label itu harus menyertakan full demo album. Padahal kan, cukup tiga lagu itu tadi dikirim, kalau diterima ya mereka yang membantu memperbaiki lagu-lagu tadi, juga menyelesaikan sisa lagu yang belum terekam.

Selain itu, pada waktu itu kami belum mengenal Youtube. Kalau sudah, kan, video rekaman itu bisa kami unggah ke youtube. Era digital belum menyentuh kami saat itu, sehingga banyak jalan tidak bisa kami lewati.

"Sisa sembilan lagu nya kita selesaikan pelan-pelan ya. Nanti kita tambahin kunci nya satu persatu." Janji kita berempat.

Sayangnya, konser kenaikan kelas di sekolah kami menjadi panggung pertama ku sebagai bassis The Red, namun sekaligus menjadi panggung terakhir The Red. Sisa sembilan lagu tersebut tidak pernah tersentuh lagi. Di kelas 6, aku terpisah dengan tiga temanku yang lain. Aku berada di kelas 6 Djuanda, sementara Amar, Fadhil, dan Aleey ada di kelas 6 Teuku Umar.

Sayangnya, Teuku Umar membentuk sebuah geng yang sering membully anak-anak kelas lain. Fadhil dan Aleey tergabung dalam geng tersebut, beberapa anak-anak Djuanda yang macho juga bergabung ke dalam geng tersebut. Di kelas enam itu, perselisihan tidak bisa terelakkan antara geng anak-anak macho dengan geng anak-anak cupu. Aku memimpin geng anak-anak cupu. Kenapa bisa dibilang aku yang memimpin? Karena aku yang paling keras menentang mereka. Mungkin itu sebagai pelampiasan ku karena gara-gara geng itu, pada akhirnya The Red menjadi bubar. Aku dan Amar menjadi bermusuhan dengan Fadhil dan Aleey. Pelampiasan kekecewaanku adalah memusuhi mereka. Hingga beberapa kali aku mendapati kata-kata teror hinggap di kursi tempat aku duduk. Kerennya, dulu aku gak takut. Coba kalo sekarang, udah gamau masuk sekolah kali aku.

Momen paling menyakitkan adalah ketika aku membagikan uang hasil kita manggung di Taman Pintar dan Galeria dulu kepada mereka sembari berkata. "Yaudah, The Red bubar. Kita udah gak ada di pihak yang sama." waktu itu aku enggak sedih, gak berpikir dua kali, enggak sayang dengan apapun yang sudah kami rintis, karena ego ku sangat tinggi. Yang aku tahu saat itu, Aleey dan Fadhil mengkhianati aku dan Amar dengan bergabung ke geng tersebut.

Sempat setelah itu aku dan Amar membuat band lagi bersama anak-anak kelas ku. Yang bernama Atlantis. Sayangnya, setelah itu kami harus fokus UASBN. Kemudian kami lulus, bubar. Meskipun pada akhir kelas 6 aku sudah berdamai dengan anak-anak geng. Aku ingat waktu itu di sebuah pertandingan sepakbola antar SD, aku mendatangi Fadhil dan Aleey, kami sama-sama pemain dalam pertandingan itu. "Dhil, Ley, aku minta maaf ya." kami berbaikan. Tapi tetap saja The Red tidak bersatu.

Di SMP, aku masih beberapa kali ngeband tapi kemampuan ku stuck di situ-situ saja, tidak ada peningkatan karena memang aku tidak mencoba mengembangkan skill bermusik ku. Sampai sekarang, kemampuan bermusik ku sudah hilang, tidak membekas.

Penyesalan? Jelas sangat ada. Kalau dipikir-pikir, aku sudah lebih dahulu bersentuhan dengan musik, dibandingkan teman-temanku yang sekarang lebih jago bermain musik. Entah apa yang menyebabkan skill ku menguap begitu saja sehingga hanya menyisakan penyesalan. Aku setiap liat Coboy Junior, sejak pertama mereka tampil di layar kaca, selalu menyesal. Mereka masih kecil-kecil tapi sudah seperti itu, sedangkan aku dan The Red, sejak beberapa tahun yang lalu seharusnya bisa melebihi mereka. Kami sudah memiliki lagu kami sendiri. Kami mempunyai modal yang belum banyak dipunyai, band yang berisi anak-anak kecil. Pedih nya lagi, sekarang, tidak ada yang tersisa, tidak ada ruang untuk mengingat kembali masa-masa itu. Kaset yang berisi demo itu sudah hilang entah kemana, video kami yang sempat terambil saat itu juga ikut menghilang, seiring rusak nya hp kesayanganku dulu, buku lagu kami? Entah dimana juga.

Pada akhirnya, penyesalan hanyalah sebuah penyesalan. Masa kecil ku dan segala kejayaannya hanya bisa aku ratapi sebagai kenangan manis. Mungkin kemampuan ku bermusik, public speaking, dan bermain sepakbola, yang aku punya saat aku kecil memang sudah menguap entah kenapa dan aku sudah lelah mencari-cari penyebab hilangnya kemampuan-kemampuan ku tersebut. Sekarang, yang harus aku lakukan adalah melakukan yang terbaik atas apa yang aku yakini dapat menjadi masa depan.

Terimakasih kepada The Red, Atlantis, teman-teman SD ku, dan guru-guru SD ku. Setidaknya dalam hidup sampai sekarang, aku pernah merasakan berada di 'atas'. Yang kemudian aku harap, kelak aku dapat berada di atas lagi. Merasakan lagi kejayaan yang sempat aku punya di masa sekolah dasar.

Salam, Reno, yang kalau kalian ajak ngeband lagi, masih mau kok. Tapi dengan sedikit belajar lagi, hehe.

Kamis, 15 Februari 2018

Tahun, Memori, Lagu, dan Wanita Yang Tidak Pernah Hilang

Dari semua tahun yang sudah aku lalui, ada satu tahun yang sangat membekas dan melekat di ingatanku. Bukan tahun dimana aku lahir, ya iyalah, gak inget apa-apa. Bukan juga tahun dimana aku sunat, atau tahun ketika aku pacaran pertama kali, atau tahun ketika aku pertama kali bisa naik sepeda. bahkan bukan juga tahun ketika aku keterima masuk UGM. Tahun yang paling membekas buat aku sampai sekarang adalah tahun dimana aku lulus dari Sekolah Menengah Pertama yaitu 2012. Memangnya, sekeren apa sih lulus dari SMP sampe-sampe aku masih mengingat tahun itu? Kalo dipikir-pikir kan lulus itu biasa gitu, ujian, lulus, wisuda ala-ala sekolah, kelar.

Aku sendiri merupakan siswa SMP N 4 Pakem, sebuah sekolah yang sangat memperhatikan akademis siswa nya. Gak heran sih, setiap tahun selalu bersaing sama SMP N 5 YK buat jadi sekolah nomer satu di DIY. Gak heran juga siswa kelas 9 jam 6.15 pagi udah sampe sekolah, kelas tambahan. Omong-omong, tahun 2012 berubah menjadi tahun yang baik menurutku itu dimulai dari hari ke dua Ujian Nasional. Tidak seperti anak-anak lain yang sangat fokus mempersiapkan Ujian Nasional, hari itu aku malah memulai sebuah usaha. Wow keren, anak SMP memulai usaha. Bukan, bukan usaha yang menghasilkan keuntungan, ya kalik dulu aku udah mikirin duit. Dulu aku masih polos, gak kayak sekarang yang udah matre setengah mati.

Lalu usaha apa kah itu? Hmm jadi aku mulai ngechat adik kelas ku lewat bbm. Geli banget, jadi adek kelas ku yang namanya (sebut saja) Ella update status di bbm "Ih nyebelin banget sih jadi orang.". Nah, aku yang sebelumnya memang tergila-gila sama dia karena kecantikannya yang menjadi viral tanpa click bait di angkatanku, tanpa berpikir panjang langsung membalas status nya itu di chat. "Siapa dek?._." Kalo aku inget inget sekarang, nekat juga ya aku dulu. Aku yang sekarang aja gak berani senekat itu. Padahal udah ada fitur reply insta story yang dijadikan jutaan cowok diluar sana untuk modus mendekati cewek.

Gak lama kemudian Ella bales, "Temenku mas .-." Lalu tanganku mengetik sebuah balasan yang sangat-sangat tidak penting, "Santai lho kalo sama aku :p" Eh gak tau kenapa karena balesan enggak penting itu malah chat nya jadi ngalir anjir. (aku tambahin anjir biar berima aja gitu). Kalau adegan pdkt itu dilakukan pada tahun 2018 ini, yang ada aku malah di cap cowok nerd aneh yang terobsesi sama cewek tapi gapernah dapet karena cupu. Tunggu, kayaknya aku emang sekarang udah dicap gitu, sih.

Bahkan hanya butuh satu hari buat dia ngereply tweet ku gitu. Jadi kan hari terakhir UN itu matkul IPA. Nah sebelum hari H UN IPA, aku mau les IPA tuh, aku bilang ke Ella juga kalo aku mau les. Trus aku ngetweet. "Duh jam segini belum berangkat." Eh dibales dong sama Ella "Wah payah telat :p". BAYANGIN DONG! Sekarang coba deh kalian lagi deketin cewek. Eh cuman satu hari dari pertama chat kalian upload foto kalian di instagram, trus di reply sama cewek itu dengan emot atau kalimat yang menunjukkan kedekatan kalian, seneng gak tuh kalian? Enggak ya? Yaudah aku nya aja yang alay :(

Singkat cerita kami semakin dekat. Lalu hanya butuh waktu dua minggu sampai akhirnya kami jadian. Aku masih ingat malam itu tanggal 5 Mei 2012. Aku lagi nginep dirumah kakak ku di daerah Deresan. Semua yang ada di pikiranku cuman Ella dan aku pikir inilah saatnya. Sebenarnya aku ragu juga sih karena aku pengennya nembak langsung gitu, tapi masih harus nunggu dua hari lagi buat ketemu di sekolah. Sedangkan aku hanyalah seorang anak yang mau lulus SMP yang masih belum mengerti kalau menunggu itu seni. Maka, aku ambil blackberry ku lalu menelpon Ella sang pujaan hati.

"Halo, La." Sapaku di telpon, sedikit ragu.
"Halo mas, kenapa?" Jawab nya di seberang sana tidak kalah ragu nya.
"Mmmm.. aku mau ngomong." Masih berusaha mencari keberanian.
"Kenapa mas?" Nada nya takut. Padahal Mas Reno kan gak serem ya.
..... ada keheningan sesaat. Keberanianku untuk menyatakan cinta belum sebesar sekarang. Eh sekarang malah lebih kecil deng dari dulu, keberaniannya.
"Kamu mau gak jadi pacarku?" Kataku akhirnya, Ada sedikit suara kaget disana, selebihnya hening. Menunggu sebuah kata tidak pernah sepanjang ini sebelumnya.
"Aku boleh pikir-pikir dulu mas?" Jawabnya akhirnya, mengakhiri keheningan yang menghiasi.
"Eh iya, kamu gak harus jawab sekarang kok, santai aja." Kalimat klasik cowok yang biasa nya diucapkan mengikuti kalimat penembakannya.
"Yaudah aku tutup ya telfonnya." Kataku kemudian.
"Oke mas."
"Oke." Aku yang sebelumnya belum pernah telfonan sama cewek, jadi bingung sendiri bagaimana mengakhiri pembicaraan. Tapi akhirnya, telefon tertutup juga lalu aku meninggalkan blackberry ku di kasur dan bersiap-siap, mas ku mau ngajak aku pergi.

Aku, mas ku, dan keponakanku (iya, keponakan. Aku udah jadi om-om sejak umurku masih balita) akhirnya pergi ke sebuah supermarket di daerah Godean. Di tengah aku menemani masku berbelanja, bbm yang aku tunggu-tunggu itu datang juga, iya, dari Ella.
"Aku mau, mas." WOOOOYYYY!!! AKU JADIAN WOYYY SAMA SALAH SATU CEWEK CANTIK DI SMP WOOOYYYY HAHHAHA

Maksudku, woy, aku waktu smp itu bentukannya gak jelas banget. Udah kayak bola basket ditumpuk empat, lalu ditumpukan paling atas di kasih kacamata. Aku sebulet itu dulu waktu SMP. Tapi kenapa aku punya nasib baik banget ya dulu? Kalo kalian tau aku dan liat betapa ancur nya badanku sekarang, kalian bakal lebih mengumpat kalo liat badanku waktu smp. Seratus dua puluh lima kali lebih ancur dari sekarang. Udah kayak koala yang harus hidup menggelandang. Tapi sekali lagi, aku punya nasib baik di tahun 2012 itu. Udah aku punya pacar cantik, nilai UN ku bagus, lagi.

Jadilah liburan tahun 2012 itu menjadi liburan yang sangat menyenangkan bagiku. Selain ada Ella dan ada selembar kertas yang menunjukkan Nem bagus menurutku, ada juga Indonesian Idol 2012 (agak gapenting sih tapi biarin deh) lalu ada juga EURO 2012. Pecinta bola pasti tau, deh. Lalu untuk pertama kali nya juga, aku nonton bola ditemani oleh seorang wanita yang berstatus sebagai pacarku, meskipun cuman lewat bbm wkwkw Tidak lengkap rasanya mengenang suatu peristiwa tanpa lagu pengantar, karena sebuah teori yang mengatakan "lagu (dan hujan) adalah media terbaik untuk membawa memori datang kembali. Maka, hal terakhir yang membuatku selalu ingat tentang tahun 2012 adalah lagu "A Thousand Years" dari Christina Perri. Seolah lagu itu adalah soundtrack jatuh cinta ku untuk Ella. Mei-Agustus 2012 adalah sempurna.

Sayangnya, bersama dengan Ella adalah pengalaman pacaran serius pertama ku. Sedihnya, memiliki pacar yang sangat cantik seperti Ella membuat sifat dasar ku yang sangat cemburuan semakin menjadi-jadi. Belakangan aku sadar aku menjadi sosok yang menjijikkan ketika bersama Ella. Kenapa? Aku dikit-dikit marah. Dia telat bales aja aku nuduh macem-macem. Dia udah nonton Film Perahu Kertas duluan sama mbak nya aja aku galau setengah mati, trus apa lagi ya? Pokoknya segala macam tindakan overprotective lainnya yang bisa disebutkan.

Akhirnya, September 2017 Ella lepas. Sepertinya dia sudah menemukan kenyamanan di orang lain. Awalnya aku tidak bisa terima. Di otp (on the phone) terakhir ku sama Ella, aku marah dan membanting hape nokia jadul ku (Iya kalo hape itu aku banting gapapa. Coba kalo aku otp an nya pake bb ku gitu, remuk yang ada kalo aku banting). Drama banget ya hidup gue. Berhari-hari aku sedih. Bahkan waktu itu setelah putus aku mengurung diri di kamar, nangis.

"Eh itu matamu kenapa? Kok bengkak?" Kata guru les ku ketika aku harus keluar kamar untuk les. Duh malu. Kalo beliau cewek aja gapapa ya aku ngaku kalo habis putus gitu. Tapi beliau cowok. Kalo aku cerita habis putus kan, malu.
"Masih ngantuk, pak." Jawabku waktu itu.

Tapi untungnya beberapa bulan kemudian aku berhasil bangkit dan aku memulai kisah-kisah baru lagi.

Sampai bulan Maret tahun 2016. Aku sedang mengemudi kan mobilku sepulang kampus menuju rumah, beberapa hari setelah aku putus dengan Dian, mantanku. Kampretnya, radio di mobilku tiba-tiba memutarkan lagu A Thousand Years. Baru mendengar suara piano di intro nya aja hatiku langsung berdebar keras sekali. Apalagi ketika Christina Perri mulai nyanyi. Jadilah, 4 menit 47 detik kemudian menjadi waktu yang terasa lama sekali. Di kepalaku, semua kejadian tahun 2012 dimainkan kembali. Bagaimana aku menemukan Ella, lalu bagaimana aku bisa lulus dengan nem memuaskan, bahkan tentang Euro nya, semua nya dimainkan lagi di kepalaku.

Setelah lagu itu berakhir, aku menarik nafas dalam. Berusaha menenangkan diri. Aku adalah cowok yang sangat gampang terbawa perasaan, dan aku benar-benar butuh ketenangan setelah dilanda nostalgia. Meskipun A Thousand Years efek ini udah aku rasakan puluhan kali sejak putus dari Ella, 4 tahun yang lalu, namun perasaan yang dihasilkan selalu sama. Namun kali ini, setelah aku tidak terikat dengan siapapun, ingin rasa nya aku mengirimi Ella pesan (Tahun 2016 sudah bergeser aplikasi nya, udah enggak bbm lagi, tapi line). Untungnya, saat itu di kampus sedang ada event try out dan aku menjadi anggota humas. Setiap anggota humas di wajibkan memegang dua SMA di DIY. Di masing-masing SMA kita diwajibkan mencari satu anak untuk menjualkan tiket nya. Ini kesempatan ku untuk kembali menjalani nostalgia bersama Ella.

Singkat cerita, kami menjadi dekat kembali. bahkan kami sempat pergi menonton bersama. Dia lebih cantik dari dulu, tentu saja. Empat tahun kami tidak bertemu, selama itu aku hanya bisa memandangi dia melalui instagram, kini kami bertemu lagi. Aku jemput dia di rumahnya, sesuatu yang bahkan dulu belum pernah aku lakukan. Setelah hari itu, intensitas kami dalam berhubungan juga masih terjaga.

Tapi lama-lama, aku menjadi bosan. Rasa yang aku miliki tidak sehebat 4 tahun yang lalu. Aku bingung. Selama ini, hatiku terus berteriak seolah-olah hanya dia wanita yang aku inginkan datang lagi. Kalau memang benar itu yang diinginkan, tapi kenapa ketika jalan sudah terbuka, hati malah terus berkata sebaliknya?

Pada akhirnya, aku menyadari sesuatu. Begitulah rasa rindu kita terhadap masa lalu dibangun. Semua memori indah itu terus berdatangan seolah ingin membunuhku karena sudah meninggalkan kenangan-kenangan indah dibelakang. Tapi ketika kita jemput lagi objek yang ada dalam memori indah itu, semua tidak pernah terasa sama. Karena 2016 bukan 2012. Keadaan sudah berbeda. Kamu boleh merindukan tahun 2012 dan semua nya yang ada, tapi kamu tidak akan bisa mengulang apapun yang sudah terjadi.

Sebenarnya keresahan ini sudah pernah aku tulis juga di blog, namun kala itu dalam bentuk analogi. Postingannya aku beru judul "Moments". Kisah ini di post tersebut aku analogikan sebagai cerita seorang anak yang terusir dari rumah dan harus melakukan petualangan. Sepanjang petualangan ia terus memfantasikan kenangan indah dalam rumahnya. Suatu hari, ketika ia berhasil pulang, ia mendapati rumah nya sudah berbeda.

Berikut kutipan bagian akhir postingan di blog ku yang berjudul "Moments" yang aku tulis bulan Juli 2016.

Yang terjadi justru berkebalikan. Semakin aku merasakannya, semakin aku merasa hampa. Harapanku tidak tersambut oleh rasa ku sendiri. Aku merasa, rumahku sudah jauh berbeda. Bertahun tahun aku meninggalkannya, bertahun-tahun aku berproses, berdialektika dengan hidupku, hingga aku menyadari, bahwa ini sudah berbeda, jauh berbeda. Aku bahagia karna aku menemukannya, tempat semua kenangan ku berada, namun saat ini aku tidak merasakan apa-apa lagi. Aku tidak menemukan kenangan itu bertransformasi menjadi nyata. Kenangan itu justru terus hidup di hati, tidak di realita. Sedari dulu aku mendambakan saat-saat itu, aku mendambakan aku merasakan lagi saat-saat itu. Namun ketika aku sudah berada dirumah, aku merasa hampa. Semua itu tak terasa lagi.

Mungkin sama seperti koala dalam cerita Raditya Dika. Ia mengembara, dan ketika ia pulang ke habitatnya, ia hanya terduduk menjadi seekor koala yang hampa karna rumahnya sudah tidak seperti ketika ia tinggalkan, pohon-pohon sudah ditebang habis, dan ia hanya bisa menghidupi kenangan akan rumahnya dalam hati.


Dari kejadian tersebut, satu pelajaran hidup aku dapatkan lagi. Bahwa masa lalu biarlah menjadi masa lalu. Kenangan seindah apapun yang terletak dibelakang sudah mengakar kuat seperti hamparan pohon pinus. Ketika kita menoleh kebelakang, kita melihat sebuah keindahan. Tapi untuk mencabut nya dan memindahkannya, susah.

Sampai sekarang, aku masih sering mengingat tahun 2012 dan Ella dalam pikiranku ketika aku mendengarkan lagu "A Thousand Years" secara tidak sengaja. Atau ketika aku menonton cuplikan pertandingan-pertandingan Euro 2012. Tapi biarlah, aku tidak ingin merubah apapun. Biarlah kenangan indah itu hidup selamanya dalam pikiranku.